Que Sera Sera, Doris Day & James Steward
When I was just a little girl
I asked my mother, what will I be
Will I be pretty, will I be rich
Here's what she said to me.
Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be.
When I was young, I fell in love
I asked my sweetheart what lies ahead
Will we have rainbows, day after day
Here's what my sweetheart said.
Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be.
Now I have children of my own
They ask their mother, what will I be
Will I be handsome, will I be rich
I tell them tenderly.
Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be.
Que Sera, Sera, pertama kali dipublikasikan pada tahun 1956, adalah lagu yang ditulis oleh Jay Livingston dan Ray Evans. Lagu ini muncul pada film Alfred Hitchcock tahun 1956, The Man Who Knew Too Much dengan Doris Day dan James Stewart menyanyikannya. Gw blm lahir saat itu, bahkan si dokterpun juga belum lahir (senang pasti dia jumpalitan monyet kalau dia baca statement ini).
Intinya, deeeuh jadi salah fokes kaaan? Intinya adalah, bahwa the future's not ours to see, what will be will be. Apa yang akan terjadi, terjadilah. So be it. Bulan operasi sudah ditentukan, 3 bulan dari terakhir ketemu. Lilu udah sealed the deal sama si dokter, bulan Juni mereka sepakat untuk do the surgery. So what left is, how the hell am I going to pay for the operation? Bukan karena gw ga kerja atau karena gw bangkrut. Tapi tahun 2010 gw baru signed KPR rumah dan tahun 2011 leasing mobil tweedehands kalau istilah bokap nyokap alias mobil second hand, yang ternyata lebih rempong dari miara anak sendiri.
Secara nasib masih working class, kalau project belum kick off, pasti ada downsidenya. Ga naik-naik gaji misalnya. It wasn't my fault that the project has not started yet, but somehow there are some complications that can't be avoided. Mau komplen, ngga ada yang bergeming. Mau ngadu, ngadu sama siapa? Ya udah, tarik napas panjaaaang, lalu mulai berpikir. Mau mulai darimana ini fundingnya? Mana si dokter udah kadung janjian sama anak gw.
Awalnya gw mencoba untuk mendaftar BPJS dengan pake roadmap si dokter. "Kamu ke Kecamatan, naah daftar disana. Lalu nanti kamu dapet nomer, nomernya kasih ke saya. OK, siiip?" Sip! Besoknya gw telp dong Pak Camat, secara gw kan Ketua RT 002 (serius iniiih!). "Waah enggak tuh Ka, kita memang pernah usulkan agar BPJS diurus di Kecamatan, tapi ga berhasil tuuh, kamu harus ke Cikokol deh urusnya setahu saya, ga bisa di Jaksel karena sesuai dengan alamat domisili", demikian tutur Pak Camat.
2 minggu berlalu karena ga punya supir dan bingung mau atur waktu anter sekolah, jemput sekolah, lalu ke Cikokol dan ke kantor. Berdasarkan info teman, dia sampai putus asa karena harus antri dari jam 5 pagi buat ambil nomer dan lalu nunggu dipanggil. Sampai 3x gagal, dia menyerah. Waduuh, kalau temen gw aja nyerah, gimana gw yang kacrut begini time managementnya? Mikir lagiiii...
Akhirnya gw mengibarkan bendera putih. Gw menghadap ke boss untuk bantu mikir. Kalau istilah temen-temen gank yoga, kita butuh "male energy". Dan kenapa si boss? Karena cuman dia sih yang kepikiran...dan he knows me very well. Hafal dia which button to push.
Si boss langsung menyambar keluhan gw dengan penuh semangat. Gw langsung dikasih deadline (DEADLINE nek!) Kalau lewat bulan Mei gw belum berhasil mendapatkan funding, gw harus bersiap-siap jual asset. Selama belum bulan Mei, gw harus bergerak cepat cari sponsor atau apapun bentuknya untuk mengatasi masalah ini.
Boss gw menyarankan untuk mencoba peruntungan ke Tahir Foundation, begitu dia dengar si dokter memberikan tambahan alternative dari 2 RS sebelumnya, yaitu ke RS yang dimiliki oleh Dato Sri Tahir. Bukan tempat prakter rutin si dokter (disana by appointment only), tapi dia bisa operasi di RS itu karena dese listed jadi consultant disana.
Catatan lain yang si boss minta adalah 2nd opinion. Si boss merasa "gak kenal" sama si dokter. Jadi dia minta gw kasih bukti bahwa si dokter itu board certified dan bisa dipercaya. Buat orang yang punya masalah spine memang ridiculous mempertanyakan reputasi si dokter (THE DOCTOR, with capital letters), tapi bukan salah si boss juga. Dia kan masalahnya di lutut, jadi dia taunya klinik orthopaedic yang di daerah Menteng itu. Siapa sih yg pengen punya back pain?
Apapun itu, I guess I am lucky to get such kind attentions dari my boss. Percaya ga, di white board ruangan gw sampai ada 2 timelines. Yang atas project timeline, yang bawah Lilu's timeline. Gw bikin notes untuk setiap langkah yang sudah, akan dan belum dilakukan. Dan jangan salah! Dia cek lho progress report gw untuk proses pencarian funding. Deg2an gw tiap si boss lewat ruangan gw...hahaha.
Kembali ke peruntungan, gw coba iseng-iseng telp ke Tahir Foundation. Lalu diminta kirim email berisikan permintaan keringanan biaya operasi dan nama dokternya. Ternyata email itu diterima langsung dan dipelajari sama Pak Tahir sendiri! Si dokter sampai sempet nanya,"Tahir itu siapanya kamu? Apa hubunngannya sama kamu? Saya sampai kaget si Dxxxx (direktur RS) telp saya dan tanya siapa itu Camilla Lilu Mayzura". Anyway, dari proses pengajuan sampai akhirnya dikasih keringanan hanya makan waktu sekitar sebulan. Jadi di bulan April, hati sudah tenang karena urusan financial sudah bisa dibilang aman. So I owed this to my dear boss, yg sdh push gw utk berusaha.
Selanjutnya proses administrasi. Ga ribet juga, semua diurus by phone dan WhatsApp. Ga makan waktu dan tenaga. Semua di remote dari kantor, rumah dan jalan (yaah namanya tinggal di urban area dan kantor di tengah kota metropolitan). Tp untunglah my smart phone setia lancar jaya dalam setiap prosesnya.
Misalnya, atur kapan operasi mau dijalanin? Cukup txt ke si dokter dan dia kasih tanggalnya. Lalu front liner RS yg daftarin. Akhir-akhir gw baru tau bahwa semua ini seharusnya diatur sm ncus atau asistennya. Tp krn ternyata mrk ga ada yg nanya atau usaha nanya, ya udh gw atur sendiri aja. Not bad though, beres semua alhamdulillah tanpa bantuan mereka. Malahan si dokter yg terkaget-kaget karena dia baru tau bahwa gw urus semua sendiri.
Sempet drama juga sih sama si dokter. Jadi harusnya Lilu masuk hari Senin buat persiapan op hari Rabu. Gw telp RS hari Jumat, mrk bilang ga tau hari apa check in nya. Mereka bilang akan kontak lagi hari Minggu paling telat. Kenapa gw senewen? Karena tepat di hari op, company gw harus ada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan. Kalau memang ga fix masuk Senin, mendingan gw urusin kantor aja dulu. Not to mention, waktu gw ijin sm other Big Boss, dia teriak kenceng banget,"apaaa? Anakmu mau operasi tulang punggung? Kamu tau gak bahayanya? Anakmu bisa lumpuh! Lumpuuuh!" Mana volumenya kuenceeeng sampai-sampai pas turun ke ruangan gw, masih bergetar gendang telinga dan hati gw. Duuuh, apa gw mengambil keputusan yang benar? Aaah pasrah aja lebih baik, serahkan ke Allah aja.
Sampai Minggu sore, belum ada kabar juga. Jadi selesai blow dry (weeeits persiapan matang dong sebelum tersandera seminggu di negara antah berantah), gw txt si dokter. Jawabannya ketus abis,"kan saya udh blg sm RS?" Huuh ga terima, gw jawab lagi dan so on and so forth. Akhirnya dese sadar bahwa emang RS yg salah ga kasih gw informasi yg jelas. Ya udh, baikan lagi laah ibarat lebaran. Saling minta maaf....salaman! Tos dulu aah! Sampai ketemu di RS yaaaa! Cuuuuz!
Visit & Follow Lilu's Instagram @ camillalilu
I was here...#thumbs up for great mom&woman
ReplyDeleteThank you darling 💟💟💟
DeleteSemoga operasinya Lilu berjalan lancar, ya :)
ReplyDeleteWaah ini cerita flash back, Indy. Lilu sudah operasi tanggal 18 Juni 2014.
DeleteJustru karena sudah beres semua, banyak temen2 yang minta aku berbagi pengalaman.
Aku bukan penulis cerita, aku backgroundnya lawyer, nulisnya peraturan perundang-undangan, corporate governance dan juga copy writer kalau lagi jadi corporate secretary.
Thanks ya buat doanya...