Thursday, November 6, 2014

Sayap Pelindungmu


Lilzu, My Bae

Sayap Pelindungmu

Saat kau jatuh
Lukai hati
Di manapun itu
I'll find you

Saat kau lemah
Dan tak berdaya
Lihat diriku

Untukmu

Kapanpun mimpi terasa jauh
O ingatlah sesuatu
Ku akan selalu
Jadi sayap pelindungmu

Saat duniamu mulai pudar
Dan kau merasa hilang
Ku akan selalu
Jadi sayap pelindungmu

Saat kau takut
Dan tersesat
Di manapun itu
I'll find you

Air matamu
Takkan terjatuh
Lihat diriku

Untukmu

Walau kau tak sanggup
Ku takkan menyerah
Ku ada untukmu



Sejak mulai nulis, banyak yang nanya gw, apa sih rasanya punya anak scoliosis? Marah? Kecewa? Nangis 3 hari 3 malem? Garuk tembok? Depresi?

Sedih dan bingung aja jawabannya. Walaupun kuping sampai berdenging diteriakin si dokter (ini mah kiasan aja, bertemu aja suliiiit!) bahwa I did nothing wrong, tetep rasa bersalah itu ngga bisa dibuang. Gw tau, ini idiophatic scoliosis, yang tidak diketahui darimana asalnya. Tapi teuteuuup...rasa bersalah itu datang ngga diundang pulang ngga diantar. Nongol suka-suka. "Apa gara-gara waktu baru belajar berdiri pernah jatuh ke belakang gara-gara gw sibuk urus air mandinya?" "Apa gara-gara waktu kecil dia senengnya "froggy"?" 

Froggy itu posisi fave Lilu sewaktu kecil kalau duduk di mobil, dimana posisinya dia meletakkan kepala di bahu gw dengan posisi duduk memeluk erat ke pinggang gw. Posisi itu jadi fave dia sejak dia umur sebulan sampai dia umur 8 tahun. It is the warmest, most intimate position between mother and daughter. I can feel her breathing, kissing her hair while she is clinging on me and both of us can feel each other's heart beating against our chests. Jadi kangen froggy deh...*mewek*

Froggy

Froggy Baby
Rasanya lebih mudah untuk menyalahkan diri sendiri daripada menerima takdir bahwa Lilu itu memang ada spine deformity. Gw beruntung pada saat kabar itu diterima, tidak ada pihak lain yang sumbang pendapat alias kasih pendapat yang bunyinya sumbang. Mudah sekali mengasihani diri sendiri lalu terjun bebas ke alam depresi. 

I have every rights to be depressed. Tapi itu semua ga gw banget. Kata orang gw freak control. Ya ada benernya juga, karena gw ga mungkin membiarkan diri gw falling apart lalu semua crumble into fall. Kadang ingin membiarkan diri pecah berantakan, tapi apa jadinya kalau gw ga bisa function well? Gimana nasib keluarga gw? Who will hold them together? I made a silent promise 5 minutes before my beloved dad passed away back in 2001 (daddy waktu itu coma di Bandung dan gw lagi kerja di Jakarta) that I will always taking care of my daughter, my mom dan my sister. Always as long as I shall live. 

Jadiiii...tarik napas panjang, inhale, exhale, bismillah. Scoliosis is not the end of the world, kok. Hanya tulang punggung aja ada kelainan, tapi ini bukan penyakit. Tidak mematikan. Am I being strong? Am I being a supermom? Nope! Menurut gw, cinta pada anak yang bikin gw kuat. Kaya cerita tentang Mulan, karena dia sayang sama daddy nya, dia bisa kuat menyamar jadi laki-laki dan berjuang sebagaimana layaknya seorang pejuang. Rahasia lainnya? Hmm...apa ya? Good music buat joget-joget sambil nyanyi-nyanyi sendiri di kamar mandi. Bagus buat katarsis.

Jadi, gw bikin aja scoliosis ini my own private little project. Tinggal milih "kontraktornya", terms sheet, timeline dan MOU deeeeh. Gw start dari internet. My computer, smartphone dan mbah google mendadak jadi soulmate. I spent hours to do my own research, making notes and discussing with my "kontraktor" kalau ada yang ingin ditanyakan. Ya sama aja kaya ngerjain project, kok. Bedanya hanya kali ini melibatkan tons of fruit salads dan nasi goreng. 

Gw cari dan pelototin tuh video-video operasi scoliosis yang di upload di Youtube. Kesalahan fatal yang pernah gw lakukan adalah menonton video itu pada saat makan bakso urat. Salah banget, asli! Makanya kalau ada yang nanya, kok tega sih waktu operasi bisa masuk Operation Theater dan taking pictures, jawabannya, gw udah latihan kaya pilot di ruang simulasi. Berlisensi...hahaha.

Hasilnya, gw jadi lebih tenang. Yakin bahwa selalu ada solusinya. Dengan catatan solusi buat scoliosis ini sifatnya selalu kerja sama dan berbagi wave length yang sama antara surgeon, orang tua dan anaknya. Untuk mengerti itu penting. Every step of the way, hand in hand working together. Ga bisa tuh meleng, lalu nyalahin anak atau surgeon. Jadi ingat ya sodara2, jangan lupa bersihin telinga dan fokus kalau lagi kontrol. Secara dese sibuk setengah mati, kadang suka buru-buru. Kita yang jadi orang tua yang harus punya pendengaran yang baik (siapin hearing aid kalau perlu) serta fokus (jangan sibuk ngelamun coooy!) pada inti permasalahan. Kalau udah selesai, buru2 keluar ruangan dengan banyak baca doa, karena pasien-pasien yang lain pasti udah melototin karena kelamaan nunggu *curcol kena dipelototin mulu*










Visit & Follow Lilu's Instagram @ camillalilu


No comments:

Post a Comment