Monday, November 24, 2014

Life Is A Road, Now And Forever, Wonderful Journey

November 24, 2014


Wonderful Journey-Disney's Anastasia

D: We were strangers, starting out on a journey
Never dreaming, what we'd have to go through
Now here we are and I'm suddenly standing
At the beginning with you

R: No one told me I was going to find you
Unexpected, what you did to my heart
When I lost hope, you were there to remind me
This is the start

Chorus (D & R)

And life is a road that I want to keep going
Love is a river, I want to keep flowing
Life is a road, now and forever, wonderful journey
I'll be there when the world stops turning
I'll be there when the storm is through
In the end I wanna be standing
At the beginning with you

D: We were strangers, on a crazy adventure
R: Never dreaming, how our dreams would come true
D & R: Now here we stand, unafraid of the future
At the beginning with you

Back to Chorus

Bridge:
D & R: Knew there was somebody, somewhere
A new love in the dark
Now I know my dream will live on
I've been waiting so long
Nothing is going to tear us apart

Chorus

In the end I want to be standing
At the beginning with you...






Di mobil on the way home, nebeng temen tentunya seperti biasa. Suasana gloomy, hujan, macet dan ditemani seorang teman yang tumben ikutan nebeng sama gw ke Bintaro karena dia lagi meriang dan ga berhasil dapat taksi karena hujan (ga pake protes deh, namanya juga nebeng, jadi walaupun rumah gw di Serpong ya ikut yang punya mobil aja ke Bintaro). 

Tiba-tiba, radio puter lagu ini, Wonderful Journey. I am such a sucker for Disney movies and theme songs. Jadilah lagu itu judul dari blog episode terakhir scoliosis journey E&L yang terkait operasi Lilu. 

Gw kan anti mainstream, jadi somehow ga tau kenapa buat gw personally lagu ini rasanya kok pas ya. As if, we are standing at the beginning, not the end of the story. Bukan story yang jelek tentunya, tapi more fun, crazy, and of course more love stories for years to come. My little daughter has turned into a lovely young lady. I am so proud of her, a girl who has never given up, who has never ever complained and always believe in good karma. 

5 bulan sudah berlalu dari post operasi, so far semua OK. Last xray bulan September 2014. Hasil hitungan terakhir 8 derajat, tapi sewaktu gw protes kenapa waktu abis operasi hitungannya 5 derajat, dia bilang,"hadeeuh, beda 3 derajat sih masalah mata aja, ga substansial". "Mungkin ga curvenya naik lagi?" "Unlikely". Setelah itu, ga tau lupa, ga tau memang udah ga perlu lagi ketemu, gw ga tau jadwal kontrol berikutnya. 

Akhir-akhir ini sih Operation Thursday Night lagi gencar lagi karena ternyata keloid Lilu parah. Sudah dibilangin berkali-kali baik sama si dokter maupun Will Smith, tapi ga tau kenapa kok ya masih aja. Ga ngerti bedanya apa sama waktu caesar Lilu karena gw juga keloid parah (problem yang turun temurun ini), tapi sama Oom Salim sih bekas operasi caesar gw ga masalah (dr. Azen Salim itu sahabat tante gw yang orang Croatia (dulu Yugoslavia)), secara Oom Salim cukup lama disana dan practically dia udah jadi dokter keluarga Sjarief. Sebagian besar populasi clan Sjarief didominasi oleh perempuan dan rata-rata jadi pasiennya oom Salim). 

Masalah dengan keloid itu, khususnya untuk gw dan keluarga, ga bisa didiemin. Makin lama makin membesar. Bayangin aja, hanya gara-gara tindik telinga, gw di usia 8 tahun terpaksa dibedah karena cuping kuping gw penuh dengan daging keloid. Sama dengan adik gw, tapi sayangnya operasinya kurang berhasil dan keloidnya tumbuh lagi.

Jadi sekarang Lilu harus suntik selama 5x setiap minggu (tapi bulan November ini skip 3 minggu karena si dokter lagi sibuk ga terima tamu) jadi ketemu-ketemu untuk suntik yang ke-3 di awal bulan Desember 2014. Suntik keloid itu sakit banget dan ga hanya sekali tusuk tapi berkali-kali dalam satu kali pertemuan. Gosok-gosok alkohol, suntik. Gosok-gosok alkohol, suntik lagi, deeeuh perih liatnya aja. Berdarah-darah punggungnya kalau abis suntik. Suntiknya di bawah kulit, ga jleb ke dalem kaya suntik biasa. Mewek deh kalau gw sendiri yang disuntik, gw ambil langkah seribu alias AWOL kalau harus disuntik kaya Lilu.

Tapi daripada harus dibedah lagi, yaah mau ga mau. See I told ya, Lilu tuh anaknya kuat dan tabah, Ga pernah tuh dia nulis status menye-menye, tegaaar! Love her from earth to heaven and back!

So here we are, at the end of our scoliosis journey. The end buat Lilu hopefully. Tapi buat gw, kayanya masih ada project yang masih berurusan sama scoliosis juga. My personal philanthropic project, yang didukung oleh teman-teman gw yang kebetulan concern dan ingin join dalam project gw. Ga tau kenapa, semua bergulir begitu saja. Ga dicari, ga diminta.  I have been receiving so many helping hands, dalam berbagai bentuk, directly maupun indirectly. Gw rasa, I have to give back to the universe. It is a good karma and hopefully it will lead us to a better future. I do believe that something wonderful is coming in our way. Everything happens for a reason and what meant to be is meant to be.

It is 6 more days to my next birthday...



This beautiful ceramic heart was made by a very talented Indonesian artist,
courtesy of Lie Fhung.




Thank you for granting my wish. Thank you for being my source of light in the end of the tunnel. 
Thank you for being my beacon when my ship is about to crash to the shore.
Thank you for being here with us every steps of the way, side by side, protecting us in ur own special way.
Thank you for reminding me that Life is Great.




Visit & Follow Lilu's Instagram @ camillalilu

Beautiful Mind-2 weeks Post Operation



10  Juli 2014



Angels dance only with you, beloved
And only before you do I bow in admiration

You may accept me or not
But I will be at your feet forever

You are beautiful...

Pulaaaang! Kasuuuur! Itu yang pertama diserang begitu nginjek rumah. Tapi ga bisa, sudah menanti 2 cowo yang berkumis lebat dengan gak kalah hebohnya. Yang satu panggilan sayangnya "bebeb", yang satu lagi "mas". Si Mas itu lebih tua dari Bebeb. Bebeb nama aslinya Popo. Bebeb juga baru operasi rekonstruksi tulang panggul 2 tahun yang lalu, karena ada defected jadi sempet lepas waktu berburu burung dan harus direkonstruksi sama orthopaedic. Nama dokternya dokter Yosep. RSnya di Bintaro. Kakinya sempet pincang sebelah, tapi lama-lama bener lagi. Pasti berpikir keras deh yang jadi pasien Premier, kok ga ada ya yang namanya dokter Yosep? Ya ga bakalan ketemu karena operasinya di Laras Satwa. Tapi ini jadi pembenaran,"tuuh kan, anjing aja harus ada orthopaedicnya, gimana manusia?" Bebeb Popo tu manjaaa sekali, kangen berat kayanya. Datang-datang langsung minta digendong, padahal udah tua lho dan badannya juga ga kecil. Note: Kumis hanya boleh buat pacar kaki empat!






Baru mau merem, samar-samar kedengeran ada yang buka pintu kamar lalu menyelinap naik ke tempat tidur...haaah, gantian ada si Mas Dangwa the Cat yang jilat-jilat sambil gosok-gosok kepalanya ke tangan gw...sambil bunyi-bunyi purring yang kaya grrrr....grrrr....Yang udah lanjut tidur berdua si Mas. 






Sehari setelah Lilu pulang, gw sudah masuk kantor, ada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan. Kalo kemarin waktu cuti dibilang,"waduuh cuti kok milihnya pas mau RUPS?" Dan gw jawab,"Wedeeew, Pak. Saya sudah ngajuin cuti dari sebulan yang lalu lho. Ini anak saya mau operasi, bukan saya mau indehoy ke Europe" (catat: ngidam banget pengen kesana!). Sekarang begitu muncul ditanya,"lho, bukannya lagi cuti, kok masuk?" Gimana ga mau masuk? Selama di RS sekretaris telpoon terus tanya ini dan itu. Lalu schedule RUPS yang semula di hari operasi, digeser jadi hari dimana gw masih cuti, tapi Lilu sudah pulang. Juara bener. I love my office...

Sepulang dari RS, practically Lilu belum bisa berbuat banyak. Banyakan tiduran dan istirahat. Untuk 2 minggu pertama post operasi, Lilu belum bisa mandi. Jadi masih dimandiin pakai tissue khusus buat mandi. Duuh kalau ga ada nyokap dan adik gw, ga tau deh harus gimana. Practically she's a big baby. She's not in pain, tapi dia masih lemes dan cepet cape. Sampai seminggu lebih masih belum bisa duduk lama, kalau dibawa jalan-jalan di mobil juga cepet minta pulang. Gw tanya si dokter, katanya gapapa, emang normal seperti itu. Dia masih makan pain killer dan pastinya masih ngilu-ngilu,"itu anak abis operasi gede. Gapapa lagi, normaaal!" 

Kalau ke kamar mandi juga masih harus dibantu. Klosetnya ya pastinya kloset duduk. Ya pasti deh ujung-ujungnya ada yang komentar, ya Lilu sih beruntung klosetnya duduk. Iya, memang dia beruntung dalam hal ini. Untuk duduk dan berdiri dari kloset aja dia perlu dibantu, bahkan untuk ngambil bidet (terjemahan bebas: semprotan air yang di samping kloset) dan to clean herself up. 

Selama 3 bulan, Lilu harus pakai brace. Tapi bukan Boston brace, hanya soft brace biar dia ga bengkok-bengkokin badan semaunya. Inget ga yang jaman si Prof kata Pak Hadi harus digips? Prinsipnya sama, tapi kan itu era si Prof. Si dokter aja masih kanak-kanak di kala itu...eeh, salah ya? Dia mah angkatannya Bee Gees ma John Travolta...*evil laugh*






 
Setelah lewat 2 minggu, akhirnya tiba waktunya buat buka jahitan. Kembali ke upacara setiap "operasi malam Jumat", biar keren dong bau2 "Operation Desert Storm" gitu, menikmati macetnya traffic Jakarta di sore hari. Kayanya anak-anak kantor sudah hafal deh schedule "Operation Thursday Night" (rada beda dikit yaak, karena kalau orang bule malam Jumat itu yang hari Jumat malem, bukan malem Kamis), jam 4an sudah sibuk beberengkes barang. Emang anak-anak gw pada kepoooo...hahaha.

Setibanya di RS (tumben teratur ya bahasa gw), upacara gw dan Lilu adalah beli kopi. Lilu itu kaya mbah-mbah, dari kecil doyan nyeruput kopi gw..meleng dikit, sedooot!. Karena kopi gw selalu dibajak, akhirnya gw suruh beli sendiri aja. Selama ini sukanya hanya starbucks, tapi sekarang sudah lumayan mau minum kopi susu tradisional. Dia senengnya Hot Asian Dolce Latte, nyokap dan adik gw Green Tea Frappucino, dan gw sendiri Cappucino aja (anaknya klasik ga bisa move on ke fushion coffee). Tapi buat black coffee gw hanya doyan kopi lokal, Indonesia banget.

Seperti biasa layaknya Operation Desert Storm, Penyerbuan Operation Thursday Night juga menjelang-menjelang midnight. Biar seru-seru sedep agak-agak menegangkan gitu deh *lebay*. Gw sih milih shift malem, biar bisa makan malem dulu, tensi kompetitor lainnya udah mulai melemah. Kalau istilah bokap, accu udah zwak (kalau yang bokapnya masih temen seangkatannya Daendels macam eike pasti tau deh cara mereka nyebut aki mobil). 

Sekitar jam 10an kita dipanggil masuk, lalu Lilu disuruh tengkurep di tempat tidur. Kemudian masuklah oom Will Smith dan si dokter dengan sapaan khasnya,"eeeeh..." udah gitu aja, Jahitan Lilu dibuka sama oom Will Smith didampingi oleh Zus cancik, sementara si dokter duduk di singgasananya nemenin mama cakap-cakap sikitlaah, mumpung masih vrij belum di verboden. Lagian gimana mau megangin, tempat tidurnya udah full house sama Zus dan Will Smith.

Lalu saat-saat menegangkan dimulai, jreng...jreng...baca xray terakhir. Gleeek...nelen ludah seret bener. Berapa nih hasil koreksinya? Duuuh, plis plis plis universe be good! Dikeker-keker pake penggaris segitiga. Tarik titik kanan, tarik titik kiri, tarik garis panjang,"oooh bagus! 5 derajat sisanya. Mantap. Siip" (kenapa ya harus selalu pake kata "sip"). Lalalalalililili...joget lompat jumpalitan ngesot cheerleader (dalam hati la haaay). Sayangnya tuh ya wajah dokternya agak kurang ekspresif (atau mungkin karena udah kuncup kecapean) jadi anti klimaks. 





Asikasikasik, dari 59 derajat sisa 5 derajat. Senangnya hatiku tak terperi, haru biru, bahasa kalbu deeeh! 



Before (59 degrees), After (5 Degrees)


Jadwal kontrol berikutnya sebulan lagi. Pulangnya kita dibekali dengan zalf buat keloid dan medical certificate karena Lilu sudah mau masuk sekolah. Intinya minta izin sekolah buat Lilu ngga ikut Physical Education (PE atau OR) dan agar Lilu diizinkan untuk pakai lift di sekolah. Kelasnya Lilu di lantai 4 dan tasnya selalu super berat. Makanya pakai tasnya yang ditarik pakai roda dan buat naik turun tangga masih belum gw kasih. Takutnya kedorong-dorong terus jatuh...gantian mama yang jatuh pingsan. Itu punggung seharga mobil, boow!

Intinya, Lilu ga boleh bawa side bending, forward bending apalagi backward bending. Lalu ga boleh membungkukkan badan, kalau ambil barang di lantai harus turun dari lutut. Shalat harus sambil duduk. Angkat beban maksimal 4,5 kilo, lebih berat dari itu ga boleh.
Larangan lainnya adalah semua jenis olah raga tanpa kecuali, apalagi yang high impact seperti lari, basket, sepak bola, zumba, bahkan yoga juga ga boleh.Yang boleh hanya olah raga otak dan mulut ajah. 

Pernah sempat terjadi perdebatan dengan seorang teman tentang perlu ada tidaknya mengangkat kursi mobil dan menggantinya dengan kasur. Karena ada kasus dimana seorang anak temannya teman gw itu habis operasi scoliosis, hidupnya kok kaya sengsara bener. Katanya sakit kalau duduk di mobil. 

Ga tau persisnya gimana, mungkin aja kan bokapnya yang ambisius ngajak anaknya driving kelamaan, kondisi anaknya yang kurang baik atau memang yaaah...susah nih, gw mulai ga objektif kalau udah urusan kaya gini. Ujung-ujungnya pasti gw nunjuk operatornya. Sama aja kan, semua project kan pasti dikerjain sama kontraktor, yang sudah kita pilih sendiri. Urusan nanti dia kerjanya bener atau ngga bener, baru kita tahu di tengah proses pembangunan atau liat hasil akhirnya seperti apa. Jadi bener-bener harus punya process oriented dan result oriented.

Urusan pilih memilih dokter memang pelik dan ujung-ujungnya bisa jambak-jambakan karena masing-masing pasien punya "fanatisme" atas kojonya. Gw sampai sekarang sih belum ada yang ngajak duel boksen, tapi yang ngeselin? Banyaaak... Lucunya, waktu gw gerutu gerundel gara-gara ada statement seseorang yang dilontarkan secara publik dan kurang berkenan di hati gw, malahan si dokter bilang,"ya baguuus dooong, kan itu hukum alam. Semakin banyak yang merasa lebih baik, saya makin happy. Saya dulu ngalahin guru saya, sekarang giliran yang muda-muda dong harus kalahin saya. Mau posting xray? Boleh, posting aja gapapa". 

Dokter memang suka weird, jangan-jangan waktu mudanya pada suka adu panco. Eniwei bener sih apa kata orang, makin tua orang harus makin bijak, artinya kalau gw ga bijak ya harap maklum, masih muda...hahaha. Laah jangan protes, ini mah fakta. Emang je kan sudah lebih tua dari ik, ya tooh? Pahaaam?







Visit & Follow Lilu's Instagram @ camillalilu


Sunday, November 23, 2014

Que Sera Sera, Whatever Will Be Will Be




Que Sera Sera, Doris Day & James Steward

When I was just a little girl
I asked my mother, what will I be
Will I be pretty, will I be rich
Here's what she said to me.

Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be.

When I was young, I fell in love
I asked my sweetheart what lies ahead
Will we have rainbows, day after day
Here's what my sweetheart said.

Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be.

Now I have children of my own

They ask their mother, what will I be
Will I be handsome, will I be rich
I tell them tenderly.

Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be.


Que Sera, Sera, pertama kali dipublikasikan pada tahun 1956, adalah lagu yang ditulis oleh Jay Livingston dan Ray Evans. Lagu ini muncul pada film Alfred Hitchcock tahun 1956The Man Who Knew Too Much dengan Doris Day dan James Stewart menyanyikannya. Gw blm lahir saat itu, bahkan si dokterpun juga belum lahir (senang pasti dia jumpalitan monyet kalau dia baca statement ini). 

Intinya, deeeuh jadi salah fokes kaaan? Intinya adalah, bahwa the future's not ours to see, what will be will be. Apa yang akan terjadi, terjadilah. So be it. Bulan operasi sudah ditentukan, 3 bulan dari terakhir ketemu. Lilu udah sealed the deal sama si dokter, bulan Juni mereka sepakat untuk do the surgery. So what left is, how the hell am I going to pay for the operation? Bukan karena gw ga kerja atau karena gw bangkrut. Tapi tahun 2010 gw baru signed KPR rumah dan tahun 2011 leasing mobil tweedehands kalau istilah bokap nyokap alias mobil second hand, yang ternyata lebih rempong dari miara anak sendiri.

Secara nasib masih working class, kalau project belum kick off, pasti ada downsidenya. Ga naik-naik gaji misalnya. It wasn't my fault that the project has not started yet, but somehow there are some complications that can't be avoided. Mau komplen, ngga ada yang bergeming. Mau ngadu, ngadu sama siapa? Ya udah, tarik napas panjaaaang, lalu mulai berpikir. Mau mulai darimana ini fundingnya? Mana si dokter udah kadung janjian sama anak gw. 

Awalnya gw mencoba untuk mendaftar BPJS dengan pake roadmap si dokter. "Kamu ke Kecamatan, naah daftar disana. Lalu nanti kamu dapet nomer, nomernya kasih ke saya. OK, siiip?" Sip! Besoknya gw telp dong Pak Camat, secara gw kan Ketua RT 002 (serius iniiih!). "Waah enggak tuh Ka, kita memang pernah usulkan agar BPJS diurus di Kecamatan, tapi ga berhasil tuuh, kamu harus ke Cikokol deh urusnya setahu saya, ga bisa di Jaksel karena sesuai dengan alamat domisili", demikian tutur Pak Camat. 

2 minggu berlalu karena ga punya supir dan bingung mau atur waktu anter sekolah, jemput sekolah, lalu ke Cikokol dan ke kantor. Berdasarkan info teman, dia sampai putus asa karena harus antri dari jam 5 pagi buat ambil nomer dan lalu nunggu dipanggil. Sampai 3x gagal, dia menyerah. Waduuh, kalau temen gw aja nyerah, gimana gw yang kacrut begini time managementnya? Mikir lagiiii...

Akhirnya gw mengibarkan bendera putih. Gw menghadap ke boss untuk bantu mikir. Kalau istilah temen-temen gank yoga, kita butuh "male energy". Dan kenapa si boss? Karena cuman dia sih yang kepikiran...dan he knows me very well. Hafal dia which button to push.

Si boss langsung menyambar keluhan gw dengan penuh semangat. Gw langsung dikasih deadline (DEADLINE nek!) Kalau lewat bulan Mei gw belum berhasil mendapatkan funding, gw harus bersiap-siap jual asset. Selama belum bulan Mei, gw harus bergerak cepat cari sponsor atau apapun bentuknya untuk mengatasi masalah ini. 

Boss gw menyarankan untuk mencoba peruntungan ke Tahir Foundation, begitu dia dengar si dokter memberikan tambahan alternative dari 2 RS sebelumnya, yaitu ke RS yang dimiliki oleh Dato Sri Tahir. Bukan tempat prakter rutin si dokter (disana by appointment only), tapi dia bisa operasi di  RS itu karena dese listed jadi consultant disana. 

Catatan lain yang si boss minta adalah 2nd opinion. Si boss merasa "gak kenal" sama si dokter. Jadi dia minta gw kasih bukti bahwa si dokter itu board certified dan bisa dipercaya. Buat orang yang punya masalah spine memang ridiculous mempertanyakan reputasi si dokter (THE DOCTOR, with capital letters), tapi bukan salah si boss juga. Dia kan masalahnya di lutut, jadi dia taunya klinik orthopaedic yang di daerah Menteng itu. Siapa sih yg pengen punya back pain? 

Apapun itu, I guess I am lucky to get such kind attentions dari my boss. Percaya ga, di white board ruangan gw sampai ada 2 timelines. Yang atas project timeline, yang bawah Lilu's timeline. Gw bikin notes untuk setiap langkah yang sudah, akan dan belum dilakukan. Dan jangan salah! Dia cek lho progress report gw untuk proses pencarian funding. Deg2an gw tiap si boss lewat ruangan gw...hahaha.

Kembali ke peruntungan, gw coba iseng-iseng telp ke Tahir Foundation. Lalu diminta kirim email berisikan permintaan keringanan biaya operasi dan nama dokternya. Ternyata email itu diterima langsung dan dipelajari sama Pak Tahir sendiri! Si dokter sampai sempet nanya,"Tahir itu siapanya kamu? Apa hubunngannya sama kamu? Saya sampai kaget si Dxxxx (direktur RS) telp saya dan tanya siapa itu Camilla Lilu Mayzura". Anyway, dari proses pengajuan sampai akhirnya dikasih keringanan hanya makan waktu sekitar sebulan. Jadi di bulan April, hati sudah tenang karena urusan financial sudah bisa dibilang aman. So I owed this to my dear boss, yg sdh push gw utk berusaha.

Selanjutnya proses administrasi. Ga ribet juga, semua diurus by phone dan WhatsApp. Ga makan waktu dan tenaga. Semua di remote dari kantor, rumah dan jalan (yaah namanya tinggal di urban area dan kantor di tengah kota metropolitan). Tp untunglah my smart phone setia lancar jaya dalam setiap prosesnya.

Misalnya, atur kapan operasi mau dijalanin? Cukup txt ke si dokter dan dia kasih tanggalnya. Lalu front liner RS yg daftarin. Akhir-akhir gw baru tau bahwa semua ini seharusnya diatur sm ncus atau asistennya. Tp krn ternyata mrk ga ada yg nanya atau usaha nanya, ya udh gw atur sendiri aja. Not bad though, beres semua alhamdulillah tanpa bantuan mereka. Malahan si dokter yg terkaget-kaget karena dia baru tau bahwa gw urus semua sendiri. 

Sempet drama juga sih sama si dokter. Jadi harusnya Lilu masuk hari Senin buat persiapan op hari Rabu. Gw telp RS hari Jumat, mrk bilang ga tau hari apa check in nya. Mereka bilang akan kontak lagi hari Minggu paling telat. Kenapa gw senewen? Karena tepat di hari op, company gw harus ada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan. Kalau memang ga fix masuk Senin, mendingan gw urusin kantor aja dulu. Not to mention,  waktu gw ijin sm other Big Boss, dia teriak kenceng banget,"apaaa? Anakmu mau operasi tulang punggung? Kamu tau gak bahayanya? Anakmu bisa lumpuh! Lumpuuuh!" Mana volumenya kuenceeeng sampai-sampai pas turun ke ruangan gw, masih bergetar gendang telinga dan hati gw. Duuuh, apa gw mengambil keputusan yang benar? Aaah pasrah aja lebih baik, serahkan ke Allah aja. 

Sampai Minggu sore, belum ada kabar juga. Jadi selesai blow dry (weeeits persiapan matang dong sebelum tersandera seminggu di negara antah berantah), gw txt si dokter. Jawabannya ketus abis,"kan saya udh blg sm RS?" Huuh ga terima, gw jawab lagi dan so on and so forth. Akhirnya dese sadar bahwa emang RS yg salah ga kasih gw informasi yg jelas. Ya udh, baikan lagi laah ibarat lebaran. Saling minta maaf....salaman! Tos dulu aah! Sampai ketemu di RS yaaaa! Cuuuuz!



Visit & Follow Lilu's Instagram @ camillalilu

Saturday, November 22, 2014

Oops I Did It Again! Cuplikan-Cuplikan Kisah Pendek



Eeeh gw pernah cerita ga sih soal kisah perjuangan menuju RS dan menanti di waiting room? Ada banyak kisah perjuangan napak tilasnya. Sayang gw ga bikin journal. Ada aja drama demi drama dalam setiap perjalanan. Ga tau ya apa hanya kejadian sama gw atau sama yang lain? Kata temen gw itulah yang terjadi kalau ada princess doyan kelayapan di jalan then drama will follow.









Brebeeet!

Di kantor gw itu ada satu kebiasaan untuk throwing a surprise party buat yang ulang tahun. Karena semua yang ultah mendapatkan surprise yang sama, maka udah ga surprise lagi pastinya. 

Gw ultah tanggal 30 Nov dan karena jatuh di hari libur jadi pastinya gw dikerjain tanggal 2 Desember, bersamaan dengan waktu untuk kontrol xray yang pertama kali. Jadi gw dengan sengaja pake dress. Waktu gw turun dari tangga, nyokap komentar,"teh, itu belahannya ga ketinggian?" Sebenernya sih ga tinggi-tinggi amat, tapi karena ga biasa liat gw pake dress kaya gitu jadi nyokap nanya. "Aaah enggak kok, Ma".

Jadi sorenya gw terbirit-birit cari taksi (baca deh blog gw yang judulnya “Don't be satisfied with stories, how things have gone with others. Unfold your own myth.” ― Rumi). 
Naah ini pas keluar lobby, tiba-tiba ada taksi nurunin penumpang. Gw tanpa sadar lari, ambil ancang-ancang sprint....ciaaaaat....menerabas masuk ke pintu mobil yang terbuka dan begitu duduk....brebeeet, itu belahan kesobek dong! Kali ini beneran apa kata nyokap. 

Jadi gw menghadap si dokter dengan gaun ala2 pramugari SQ. Untungnya cuman brebet di belahan, jadi ga ada yang ngeh, termasuk nyokap gw. Coba kalau di pantat? Hadeeeuh...








Ketemu Ex Crossboy & Nini-nini

Kejadian sama supir taksi yang lain adalah sewaktu gw mau ngebrief si dokter soal progress urusan RS untuk persiapan operasi terkait dengan akan ada interview antara admin RS dengan dese. 

Duuuh ini supir taksi pede bener lagunya pasti enak, setel kenceng pol. Lagunya Ikang Fawzi, Gito Rollies...ex crossboy kayanya. Crossboy itu istilah anak gaol angkatan 60an menurut member kantor tetangga satu lantai yang waktu kecilnya tinggal di Tanjung Priok. Masih untung akhirnya dapet taksi crossboy juga setelah berlama-lama melambai-lambai di pinggir Menara Rajawali, jadi pasang earphone aja daripada dia bete kalau disuruh ganti playlist.

Beberapa tukang ojek sebenernya sudah berupaya untuk merayu-rayu agar gw melupakan pilihan pakai taksi dan move on sama mereka. Hadeeeuh, ga liat apa gw pake rok rapi dan haihils karena abis beres meeting? 


Gw itu kan orang yang taat azas dan selalu antisipasi dengan early warning system. Jadi gw kesana buat brief dese biar mas boy aware bahwa akan ada telp dari RS tersebut. Jangan sampai dese tersinggung gara-gara tiba-tiba ditanya-tanya (kok pengulangan kata semua ya?) tanpa gw minta approval dulu. Weeew jangan marah dong, iya gw tau dia emang kondang, temennya aja se Asia (namanya juga mas boy,hahaha...maafkan dakuuu). For some people, dia manusia setengah dewa atau bahkan dewa Zeus penguasa mount Olympus. But it doesn't work like that for me. Dewa yang asli itu cuma satu...Dewa Budjana!








Pasien si dokter banyaknya lain nini-nini dan aki-aki, pada megang pinggang, nyareuri cangkeng. Begitu gw dateng, langsung curigesyong (biar rada-rada berbau Europe sedikit *berkhayal nyolek yang baru balik dari Monaco*),"pssst...itu nomer berapa itu?" dengan pandangan penuh pisau-pisau, emosi jiwa...uuugh syereeem. Atau mungkin sirik bathin aja liat gw yang datang dengan high heels. 


Namanya nini-nini, ga dimana-mana, selalu bawa perbekalan lengkap. Persiapan full buat nunggu sampai ayam berkokok. Tiba-tiba si nini memilih duduk di sebelah gw padahal anaknya duduk di belakangnya. Resah banget nanya-nanya ke anaknya yang duduk di belakangnya:



Ibu: Ini dokter yang beda lagi sama yang kemarin?

Anak: Iya beda, si Adam (tauk deh namanya siapa gw lupa) kemarin daftarin ga tanya-tanya dulu, jadi aja ke dokter yang kemarin. Harusnya kesini yang bener".

Ibu: Ini dokter orang apa, asal darimana, namanya kok aneh ya? Umur berapa? Udah tua apa masih muda?

Gw (ketawa guling-guling dalam hati sambil khayal meluk tiang takut ngegubrak): Gustiii, nini mau periksa ke dokter ataw mau ngeceng? "Heloow...helooow...I am paging you doctor". "What seems to be the problem?" "Ow sorry, this fan of yours want to know what is your origin and how old are you. Want to know ajaaa!" Bwhahahahaha...







Begitu my darling zuster (mas boy kan masih angkatan era2 Van Vollenhoven yang adik kelasnya Raffles, jadi masih nyebut suster or nurse dengan sebutan "ZUS") muncul memanggil nama si nini, eeh si nini mendadak ngaberebet ngacir...zoom! Dasar namina oge nini-nini, dia lupa dong bawa box makanannya yang masih penuh. Ketinggalanlah satu kotak isi lemper, teh kotak, cakes. Atau mungkin dia pikir gw bufet makanan kali yee? Mirip sih sama lemari 4 pintu saking lebarnya. Untung gw masih inget harga diri, kalau enggak udah gw embat tuh lemper dan teh kotak, padahal udah lapar tingkat dewa.


Photo Session

Kali ini gw dan sahabat gw dilanda bosan yang amat sangat, karena harus ambil medical certificate (surat dokter) buat izin Lilu ga usah ikut Physical Exercise alias kelas olah raga untuk kelas 7. Sekolah Lilu itu ketat banget urusan kaya begini. Tanpa ada medical certiificate, ga bakalan dapat pengecualian. Kudu judulnya. 

Lilu itu hobby exercise, dia seneng lari, main bola, archery (panah) dan pernah juga ikut wushu. Kasian sebenernya dia ga bisa ikutan semua yang dia suka karena harus pakai brace, tapi somehow ada hal yang ga bisa dihindari. Kadang ada sesekali dikasih izin buka brace sama si dokter, misalnya sewaktu chinese new year celebration dimana dia harus pakai cheong sam. 

So here I am back in the waiting room. Udah malem banget, menjelang jam 11an. Kita menyelinap ke salah satu ruangan kosong buat numpang nge charge. Kita ga ngapa2in kok, beneran, ga berbuat nakal sama sekali. Swear! Ga tau terus kenapa kita jadi cekikikan, giggling just like school girls, lalu iseng taking pictures of my best friend untuk mengabadikan keisengan yang ga bakalan terulang sampai akhir hayat...hmm kayanya sih...ga berani janji...









Please visit & follow Lilu's instagram @ camillalilu

Friday, November 21, 2014

I am Taller Than My Mom & I Can Dance!-Post Op Day#5

23 Juni 2014

Funny, I don't recall what was happening on June 21-22, 2014. Seinget gw hanya super boring aja, nunggu bracenya datang. Post surgery, Lilu mendadak jadi tinggi. Sempet jadi kebalap banyak, tapi setelah itu normal kembali. Tetep tinggi, tapi ga pake banget.


My Tall Baby Girl

Karena nyokap dan adik gw ikutan nginep, gw punya kesempatan buat "me time". Tapi ga berani kelamaan juga sih. Palingan refleksi di Citos, di basementnya itu lho. Terus beli ramen, kecap manis, kecap asin, satu box air botolan. Oya Lilu minta dibeliin milk chocolatenya Cadbury. Selama ini ga pernah gw beliin soalnya mahal. Tp kesempatan emas kaya gini tak akan dilewatkan olehnya. "Ma, tanya oom dong aku boleh ga minum susu coklat Cadbury". Dan jawabannya udh ketebak,"boleh, kasih aja".

Gw udah bawa baju dan sepatu buat lari, tapi ternyata traffic di jalan Lebak Bulus itu ga safe buat lari karena sempit, berantakan dan para pengemudi motor yang lalu lalang kayanya merasa dirinya adalah Valentino Rossi. Tadinya udh niat nyolong-nyolong pake mesin treadmill di fisioterapi, tapi sayangnya kali ini urat malu gw masih berfungsi. Tumben, biasanya mah putus (kalau lagi ada maunya).

Tanggal 22 dokter Will Smith datang buat ganti perban. Perbannya Lilu udah mulai lembab, jadi diganti dan ditutup biar ga basah. Sampai jahitan dibuka 2 minggu lagi, mandinya pakai tissue khusus buat mandi, yang udah pakai antiseptik, ga boleh kena air dulu.Menarik juga liat cara dokter Will Smith giving orders ke dokter jaga dan susternya. 

Serta merta ingatan melambung tinggi ke cerita Pak Hadi soal Prof yang gualaak itu. Untung semua yang pernah jadi boss gw baik-baik dan panjang sabar (dan panjang napas alias banyak hela napas panjang) sama gw...hihihi *lovemybosses*. Eeeh ada dink satu yang pernah merasa gw pelototin jaman gw kerja di perusahaan semen,"kenapa kamu melototin saya?" Lalu kata sahabat gw (laki, insinyur pulak) dengan sotoynya,"makanya gw bilang juga apa? Mata elo tuh udah gede, jangan pake ditambah mascara, tambah gede itu mata tau gaaak?" *buru-burumerem*

Tanggal 23 Juni 2014, di sela-sela kebosanan yang melanda, tiba-tiba Lilu minta turun. Lalu mulai berkeliaran keliling kamar. Trus pasang musik EXO kesukaannya daaan...jojing-jojing girang. Kaget asli gw liat dia bisa dancing around kaya gitu...wow!


Milih lagu
Pada saat itu belum ada larangan apa-apa, mungkin si dokter juga ga nyangka anak gw bakalan nakal bengal kaya gitu. Belum pake brace pula. 

Tanggal 23 Juni 2014 sore datang deh oom Will Smith bawa brace. Pake acara ngomelin segala,"Lo kemana kemarin? Gw kesini lo ga ada". "Ya kenapa juga ga bilang mau datang silaturahmi...eeh salah ya? Mau visit. Kan RS pegang no HP gw. Gw ga kemana-mana kok, cuman bosen aja di kamar, lalu pinjem kursi roda, jalan-jalan sebentar cari angin (gayanya kaya layangan kapakan kali cari angin)". "Ya udah, sini pake bracenya". 

Brace yang kali ini bukan brace semacam Boston brace, tapi soft brace, yang gunanya untuk menahan agar tidak sembarangan bungkuk dan bengkok. Dipakainya selama 3 bulan pasca operasi, kalau sedang duduk, berdiri dan jalan. Kalau tidur ga usah pake brace. Ada sih photonya, tapi anaknya bisa marah kalau photonya dipasang. Waktu pakai brace keliatan bahunya masih miring, tapi kata si dokter gapapa, nanti akan ada penyesuaian sendiri.

Setelah brace dipasang, besoknya kita boleh pulang. Akhirnyaaa...kita bebaaaas!




Visit & Follow Lilu's Instagram@camillalilu