Monday, November 17, 2014

Everything Is Gonna Be OK-Post Op Day#1

19 Juni 2014

Pagi-pagi sekali nyokap dan adik gw sudah berangkat pulang ke rumah, karena banyak yang harus diurus, while tugas gw adalah fokus jaga Lilu. Selama Lilu belum diperbolehkan kembali ke ward, artinya masih ada yang harus dimonitor secara khusus. 

Sekitar jam 8 pagi, gw jalan ke PICU untuk liat kondisi terakhir. She seems fine, masih ngeluh mual dan katanya punggungnya sakit. On the scale of 0-10, sakitnya di kisaran 6-7. Tapi sulit untuk mengukur kisaran rasa sakit karena semua tergantung pada kemampuan anak itu untuk mengukur rasa sakit. Beneran sakit atau hanya discomfort? Secara anak gw sulit membedakan antara sakit perut mules, mual dan sakit yang macam sharp pain. 

Menurut dokter jaga PICU, salah satu fungsi dari heart monitor adalah untuk mengenali apakah anak itu sedang merasa kesakitan. Saat ini, menurut dokter, Lilu sedang dalam kondisi stabil. Enggak sakit sekali, tapi mungkin sakit nyeri yang lebih ke discomfort. Tapi membiarkan dia dalam kondisi discomfort juga kasian pastinya. Jadi Lilu diminta untuk bilang kalau dia merasakan sesuatu. Anaknya sih sadar, mau diajak bercanda sama suster. She is a very sweet girl, disayang sama dokter dan susternya, tapi kadang suka males ngomong. Tunggu mama aja biar mama yang ngomong sama suster atau dokter. Masalahnya, mama kan ga selalu ada disana.





Yang bikin khawatir, sering baca tulisan yang habis operasi mengeluh panjang kali lebar mengenai sakitnya. Pertanyaannya, apakah orang yang mengeluhkan sakitnya itu memang resistensinya rendah terhadap sakit ataukah anak gw yang berusaha menahan sakit karena gengsi ngaku sakit sama dokter dan susternya?

Menjelang jam 9 gw balik dulu ke kamar karena mau breakfast dulu. Paket bed hotel yang dibayar sama nyokap kemarin sudah berikut breakfast. Lagi tengah makan, tiba-tiba datang mbak dari bagian gizi masuk dan bilang,"Bu, karena ibu belum memastikan akan sewa kamar lagi, jadi nanti siang saya ga anter makanan". "Mbak, saya bukannya ga mau bayar bed hotel, tapi saya mau cek dulu sama PICU apa anak saya nanti balik kesini ataukah tetap disana". 

Baru mau mulai nyuap, tiba-tiba telp gw bunyi...PICU! Gw diminta untuk ke PICU skrg juga. Buru-buru jalan ga inget makan lagi. Sesampai disana, Lilu kondisinya baik-baik aja, hanya albuminnya turun. Jadi harus ditambah melalui suntikan. Gw tanya, albumin itu apa dan kenapa bisa kurang? Dokternya bilang, albumin itu protein yang tugasnya membawa obat ke tubuh. Gw tanya, kenapa harus ditambah, apa risikonya kalau ga ditambah dan bagaimana kondisi Lilu yang sesungguhnya? Jawabannya ga jelas, nambah bilang pendarahannya masih sangat banyak. Tunggu aja dokter Lola dan dokter Will Smith karena spine surgeonnya yang tahu klasifikasi pendarahan yang bahaya dan ga bahaya? 

Gw coba tanya dengan cara lain,"OK, berdasarkan standard PICU, pastinya ada dong standard emergency dan non emergency? Ga harus spine surgeon yang menentukan? Misalnya, gw kan corporate lawyer dan temen gw spesialis di bidang labor law. Up to certain point pasti kita ada standard yang sama, let's say misalnya untuk menyatakan bahwa tindakan ini benar atau enggak secara hukum.

"Jadi kapan saya bisa ketemu dokter Lola dan dokter Will Smith?" "Waduuh ga bisa ditentukan, Bu. Soalnya mereka sibuk sekali".

Seakan belum cukup membingungkan, begitu keluar ruangan PICU, tiba-tiba suster ngejer gw,"Bu, ada yang harus ditandatangani". Apa lagi itu? Ternyata, karena obat peningkat albumin itu harganya sekitar 2 juta, maka gw harus kasih persetujuan. Gw tanya, obat ini sudah di approve sama si dokter? Iya sudah, tadi sudah setuju via telp. OK deeeh, as long as he agrees to it. 

Gw signed dan begitu angkat kepala? Dihadapan gw ada seorang ibu-ibu senyum-senyum serem di depan gw, kaya udah siap nelen. Saat itu, hanya satu karakter yang mengingatkan gw sama si ibu, Ursula, yang di film Little Mermaid. 



In a nutshell, si Ibu intinya mau gw bayar bed hotel dengan setengah ngancam bahwa barang-barang harus dikeluarin karena akan dipakai pasien lain. Gw bilang, ini bukan masalah ga mampu bayar, charge otomatis aja gapapa. Dibandingkan harga obat yang baru gw signed off dan biaya total operasi, bed hotel ga ada artinya, meaningless! Si suster yang ikut dengerin sampe ikutan belain,"Mbak, ga gini caranya. Anaknya si Ibu masih di ICU, masa harus seperti ini sih caranya?"

Gw turun ke bawah, bikin reservation kamar lagi, lalu kabur ke parking lot. Nangis-nangis cantik dulu di parkiran. Ga berani kenceng-kenceng, takut gegeran lalu kondang *damsel in distress*. Ntar kalau tiba-tiba banyak mas-mas yang nawarin a shoulder to cry on gimana? 

Jam 12an mama sama adik gw datang. Lalu ada kabar bahwa sepupu dan tante gw mau jenguk ke RS. Sepupu gw tinggal di Bekasi, single mom with 2 daughters. Ibunya orang Croatia yang tinggal di Jakarta Selatan. Mereka mau ke BSD, sekalian mau mampir dulu. Memang gw ga mau make a fuss about Lilu having a big surgery ke sodara-sodara. Mereka sudah sibuk, sulit kendaraan dan RS Lilu jauh kemana2, udah pasti merepotkan untuk bisa datang kesini. Namun dengar mereka menyempatkan mau datang, rasanya terharuuuuu banget! 

Ga lama sepupu gw datang. Sewaktu mereka datang, gw lagi di ward, jadi ketemu nyokap sama adik gw duluan di waiting room PICU. Pas gw datang, tante gw lagi berkaca-kaca sambil berkali-kali ngomong sejenis ungkapan dalam bahasa Croatia (gw ga bisa nulisnya tp it does sound like "pitskumate" yg happening bgt ciri khas my dear aunt) sambil bilang,"Kenapa anak kecil yang harus kaya gini. Kasian...kasian". Padahal Lilu lagi gapapa, tapi katanya si tante sedih dan ga tega liat muka Lilu yang warnanya biru lebam. 




About 30 minutes later, suster datang ke waiting room, kasih tau bahwa dokter Lola sudah datang. Jadi gw permisi, mau ketemu dokter Lola dulu. Dokter Lola orangnya kecil tp terlihat sharp, sangat efisien dan smart. Dia tanya,"hai Ibu, mau tanya soal albumin? Tenang saja, albuminnya turun karena operasi scoliosis adalah operasi besar dan banyak darah yang keluar, baik pada saat operasi dan post op (darah post op dikeluarkan dari tubuh melalui selang yang dihubungkan ke semacam container plastik. Hasil tampungan itu diukur setiap beberapa jam, untuk menentukan berapa banyak darah yang keluar). Jadi wajar aja kalau albuminnya kurang, karena ikut terbuang bersama darah yang keluar. Untuk mengejar kekurangannya, jadi disuntikkan obat. Bukan hal yang mematikan kok, jadi ngga perlu terlalu khawatir". 

"Soal pendarahannya gimana?" "Oooh tunggu si dokter aja". "Lho, bukan si dokter! Yang harus datang itu dokter Will Smith". "Aaah enggak, orang saya ketemu dia di bawah kok". Terus gw bilang, bahwa gw tadi punya masalah soal bed hotel. Dokter Lola langsung spontan bereaksi, minta dihubungkan sama kepala ward dan komplen dengan keras,"ga begini cara memperlakukan orang tua pasien. Anaknya aja masih di ICU, kok dikejar-kejar soal reserve kamar. Kan gampang aja, ga mungkin ibunya ga tanggung jawab, orang dia jaga anaknya kok".

Tiba-tiba pintu geser otomatis PICU kebuka dan..."aaaah mamaaa, sudah disini!" Gw sama dokter Lola saling memandang seakan bisa saling baca pikiran. Pastinya pikirannya sama, deeeuh nape jugaa dramatis gitu? Lalu dia berdiri di samping Lilu, nunjuk container darah dan berseru,"pendarahaaan....pendarahaaaan". Duuh Gustiiii...*ngesot garuk tembok* Ampun dijeee...maluuu gw sm dokter Lola! 

Lilu sampe melek denger suaranya. "Eeeh Lil, itu mamanya Afgan lho. Minta foto bareng, gih!" Kali ini anak gw beneran melek dan sadar beneran. "Beneran sus, itu mamanya Afgan?" Susternya sampai ngakak,"aah dasaar anak abg, begitu denger Afgan aja langsung bangun". 

Muka gw udah merah kuning hijau kaya traffic light. Gw yang biasa membully kali ini habis kena dibully dan ga berani ngelawan...KO...Knock Out. Trus dia duduk di samping gw,"kenapa? albumin? Masak putih telur gih yang banyak". Gw saking shocknya tergaga-gaga kaya orang bego,"tapi aku ga ada kompor di RS". Suster dan dr Lola ketawa geli puas bener...,"Ibuuu, yang masak bukan ibu, tapi bagian gizi. Nanti kita minta dimasakin. Sehari 3x juga cukup kok". 

Puas ngerjain gw, si dokter balik ke Lilu. "Sini sayang, coba baring ke kanan dan kiri". Diiringi aduh-aduh, Lilu didorong ke kanan dan ke kiri. Untungnya yg pushing si dokter, kalau yg lain udh gw dziiiig kali bikin anak gw meringis-ringis kaya gitu. 

Puas dengan hasil observasi dorong kanan kiri, dia balik ke suster,"suster, siapin anaknya buat xray. Udah, balik ke kamar aja. Kasian itu mamanya udah nangis-nangis terus". Huuuh, fitnah bener. "Besok latihan mobilisasi jalan, ya". "Emang udah bisa?" "Ya malam ini belajar duduk sendiri dulu, besok diajarin suster gimana cara jalannya". 

Sebelum pulang, gw kenalin dulu si dokter sama nyokap, adik gw, tante gw dan sepupu gw. Gantian dia yang gw kerjain deh, suruh salaman kaya lagi lebaran *revenge!* sambil lompat-lompat kelinci nyengir kuda gelayutan tiang lendotan tembok saking girangnya Lilu udah boleh balik ke kamar lagi. Setelah itu Lilu dironsen dalam posisi tidur di tempat tidur, kemudian didorong balik ke kamar. Yeaay, kita bersama lagi. 




In between that, gw lalu dipanggil sama dokter yang jadi kepala ward yang ditelp oleh dokter Lola. Such a nice young doctor. Dia minta maaf atas ketidaknyamanan gw dan si "Ursula" diminta stay di ruangan selama gw diminta cerita secara detail gimana cara si Ursula nguber-nguber gw dan juga nyokap kemarin. Selesai dari Kepala Ward, gw diminta turun ke bawah, ketemu Customer Service. Mereka menanyakan keluhan-keluhan gw dan minta gw briefing apa aja yang harus mereka perbaiki. Kenapa ya, jauh-jauh ke RS tetep aja ujung-ujungnya nge brief orang. Anyway, gw seneng akhirnya semua berakhir dengan baik. Sayang aja RS segini bagus kalau jd rusak nama baiknya gara-gara oknum.

Saking girangnya besok mau belajar jalan, Lilu bertekad untuk latihan duduk sendiri. 


Tapi kemudian Lilu ngeluh kepalanya pusing banget. Ternyata Hbnya turun lagi, jadi harus tambah transfusi 2 kantung lagi. Semalaman dia sulit tidur dan ga mau ditinggal, jadi gw harus tidur dengan posisi 2 kursi digabung jadi satu, while my fat butt was hanging in between the chairs. Begitu Lilu tidur, gw diem-diem balik ke tempat tidur. Tapi lalu dia bangun dan nyariin, jadi akhirnya nyerah dan tidur dengan posisi yang aneh itu. Besoknya...OMG, back pain menyerang! Dokteeeeer...mama sakit pinggang! 



Visit & Follow Lilu's Instagram @ camillalilu

No comments:

Post a Comment