Saturday, November 15, 2014

When Love And Skill Work Together, Expect A Masterpiece.~John Ruskin~D Day, Operation Day (Continue..)





Today is the D Day. Terbangun terlambat, seharusnya jam 4.30 bangun, malah kebangun jam 5.30. Langsung terbirit-birit ke kamar mandi. Cuci muka, pasang kontak lens sambil tunggu air panas ready, lalu pasang musik di smartphone gw (yang menurut Lilu berisik banget takut bangunin kamar sebelah). Shower pake air panas sambil nyanyi-nyanyi dan joget-joget sendiri, katarsis yang paling cepet dan ampuh. Ga punya banyak waktu juga karena si dokter minta jam 6.30 sudah rapi. 

Jam 6 everything is ready. Lilu didorong ke ruang operasi, gw jalan sama mama dan adik gw. Moomoo masih ikut nemenin. Moomoo itu boneka sapi yang setia nemenin Lilu kemanapun dia pergi, hadiah dari seorang sahabat ketika Lilu lahir. Moomoo sendiri sudah berapa kali "operasi". Pertama di refill isinya. Kedua, karena udah lapuk, gw jahit ulang perutnya pakai bahan selimut baby. Alhamdulillah awet hasil karya "dokter Eka" sampai sekarang.

Jam 6.30 pagi di preparation room, masih sepiiii. Looh kok masih sepi, dokternya mana? "Oh, dokter masuknya nanti, tunggu semua siap dulu. Mungkin masih di doctor's lounge. Biasanya sih sebelum mulai operasi, dokter akan bicara dulu dengan keluarga pasien". OK, good enough. Lilu lumayan senewen waktu di preparation room, yang bisa masuk hanya gw karena ga boleh banyak-banyak yang masuk ke dalam. Mama sama adik gw tunggu di luar. 


At the preparation room. Last chance to smell her bff since birth, Moomoo. She was so brave, my little dragon.
I am so proud of her.

Gak lama bisa sayang-sayangan di preparation room, Lilu sudah harus masuk ke Operation Theater. Diantar sama dokter anastesinya, sambil dijelaskan lagi proses anastesinya, yang more or less sama dengan yang dijelaskan kemarin. See you soon, my brave little dragon! 

Kita bertiga akhirnya terdampar di ruang tunggu. Udah jam 7.30...kok si dokter ga datang juga ya? Udah mulai belum operasinya ? Harus berprasangka baik jadi orang..mungkin menurut si dokter semua sudah jelas, ga perlu tanya-tanya lagi. Kita duduk di ruang tunggu aja, nonton channel Rajawali TV (teuteup yaa diingetin sama urusan kantor) yang ga bisa diganggu karena ga ada remotenya. Dan FYI, nyari sinyal di RS ini agak-agak pelik. Walaupun ada wifi, tetep aja suliiiit. Jadi buat penyuka sosial media kaya gw, musti rajin-rajin cari spot yang bagus. 

Sekitar jam 8, adik gw baca txt dari seorang anak laki-laki yang bilang ada di kamar mau jenguk Lilu. Anak itu bawa hadiah buat Lilu. Aaaaw, so sweet! Anak itu kita suruh susul ke ruang tunggu dan kasih tau kalau Lilu sudah masuk ruang operasi. Kemungkinan baru bisa jenguk besok atau lusa, karena malam ini akan masuk PICU (Pediatric ICU). Aaah, young love, so refreshing, so pure and sweet. What a bless day. 

Jam 8.30, mama sama adik gw udah ga kuat duduk nunggu di waiting room. Mereka mau tunggu di kamar aja, sementara gw tunggu di waiting room. Dalam keadaan seperti ini, harus stay alert. Bisa aja something went wrong dan dokter harus rush in cari keluarga buat minta persetujuan atau sekedar kasih tau what is going on. Bad news, good news, sama aja. Dalam kondisi normal, gw pasti udah freaked out. Gw paling juara mules-mules dan freaking out (I bet si dokter inget bener kelakuan gw waktu gw dikasih tau Lilu harus operasi, makanya kewarasannya diragukan tampaknya). Alasan lainnya, gw pengen banget bisa liat Lilu di OT. I wouldn't miss it for the world".

Kali ini berbeda, for the first time in my life, I sang a different tune. Gw tenaaang sekali, bahkan rasanya seperti hari tertenang dan terpasrah dalam hidup gw. Mungkin karena sejak gw lahir, gw diwajibkan bersikap dan bertanggung jawab atas masa depan keluarga oleh bokap gw. Kalau gw lagi berdua bokap, seringkali alm mengingatkan bahwa gw bertanggung jawab sama nasib keluarga kita dan sekaligus keluarga besar. Kali ini, ada seseorang yang ambil tanggung jawab dan bilang,"everything is gonna be OK". And I believe him. Lilu believes him. We are gonna be OK.

Sementara, di luar waiting room, di kamar ternyata ada drama yang lain. Nyokap sama adik gw lagi pada nangis-nangis waktu tiba-tiba datang mbak dari bagian sales & marketing room. Dia minta mama kosongin kamar karena Lilu akan spend the night in the PICU. Barang disuruh pindahin ke ruang tunggu PICU. Keterlaluan banget tu mbak, masa nyokap dan adik gw lagi nangis-nangis disuruh beresin kamar kaya penghuni gelap aja. Katanya kamar mau dipake sama pasien lain. Nyokap dan adik gw akhirnya buru-buru bayar kamar buat semalam daripada disuruh beres-beres kamar dan karena kita butuh kamar untuk nunggu malam nanti. 

Balik ke waiting room Operation Theater (OT), sekitar jam 9.30 tiba-tiba ada security bergegas manggil,"orang tua Camilla Lilu?" "Iya, kenapa Pak?" "Ibu diminta masuk sama dokternya". OK, diminta masuk sama dokternya...kalau something went wrong, pastinya dokternya dong yang keluar dan cari gw? Artinya...gw boleh masuk ke OT! Yeaaay! 

Gw dianter ke lantai 5, lewat tangga. Diminta ganti alas kaki dengan sepatu semacam sepatu crocs. Lalu sebelum masuk ke locker room, gw diminta ganti sepatu lagi. Locker roomnya persis seperti di gym. Lalu suster kasih scrub dan minta gw ganti baju. 

Gw dikasih locker yang bertuliskan,"dokter tamu". Very cool, right? Susternya liat gw ganti baju dan bilang,"ibu, jangan pingsan ya di dalam. Saya udah berapa kali harus angkat orang tua yang pingsan di dalam OT". "Aaah Mbak, Insya Allah ga akan pingsan. Saya boleh bawa handphone ke OT?" "Ooh boleh aja".

Kemudian kita keluar dari jalan yang berbeda, kali ini kita keluar lewat doctor's lounge. OMG...I am in a totally different world! Bayangin, sejak kecil, I have been addicted to doctor's movies. Blame it to my mom, she was always talking about "Dr. Kildare" (gw ga tau siapa dia karena gw masih kecil banget, tapi ya gimana, ingatan gw mulai sejak gw umur setahun?). I am such a sucker for doctor's TV series. Gw nonton semua itu dengan loyalitas tinggi, jauh lebih tinggi daripada nonton Law and Order, LA Law, Scandal, The Suit... "Ayo Bu, kita kembali ke ruang operasi? Dipake ya cap nya sama maskernya" O yeaah baby, let's rock and roll!

Sampai di ruang operasi, everything looks so different compare to my world. In my world, everybody's wearing business suits, blow dried hairs, make ups, hair wax, perfumes, high heels. Here, I have to wear this ugly green color scrub (but I think I still can pull it off to look amaaahziiing behind the mask! I think ya, you have to focus on your eye make up....hahaha) with hair caps and mask. Total masquerade. You can turn yourself into someone else just within a second, just like Batman. Hide behind the mask inside a totally different world. Yang kurang hanya cape (jubahnya) aja, then you have become a superhero.

So here I am right in front of the OT. Pintunya 2 sama lebar, warnanya abu-abu. Quiet intimidating, I think. Inhale, exhale...susternya lalu injak pedal di samping pintu kaya pedal gas mobil. Tiba-tiba kedua pintu terbuka lebar. Ruangan terang benderang dan terlihat beberapa orang berbaju hijau seperti gw mengelilingi satu meja. Mulai melangkah ke dalam dan.....,"Mamaaaaa, mama dataaaang!" Dammit, do you really have to shout like that? It was so embarassing! Then I saw him, then I saw her, then I was in a strange new world, his world...



Si dokter was so excited that it was contagious. He was literally jumping up and down and tanpa sadar gw ikutan excited tanpa ngerti kenapa gw harus excited seperti itu. Dia bilang,"Lihat, lihat, udah lurus kaan?" He was repeatedly saying that, pointing at the xray and Lilu. Lalu dia tersadar bahwa meja operasi sangat tinggi dan gw sangat cebol, jadi gw ga bisa liat apa yang dia omongin. "Bangku, bangku!" Setelah beberapa kali adjustment posisi bangku yang digeser pake kakinya si dokter, akhirnya gw bisa berdiri di atas punggung Lilu dengan jelas. Then I took a our wefie. I can hear someone was muttering,"gaul amat ya ni dokter sempet-sempetnya selfie dulu".

Then I saw her back and I just knew that my daughter had his masterpiece planted on her back. He said,"look, look, she is so beautiful". So when I took a picture of her back, dia yang protes,"eeh jangan dulu, anaknya cantik begini, kasian kalau diphoto ada darah-darahnya. Bersihin dulu, bersihin...mana suction? Eeeh itu disana, masih ada". He was so bossy ordering everybody to clean her up so I can take this gorgeous picture of Lilu's back. It was such an amazing moment that I will cherish till my last breath. I was in seven heavens.



Lalu,"ya udah, keluar lagi". "Ga mau, mau disini liat sampai selesai". "Ga boleh, harus keluar. Kalau ga keluar-keluar, nanti operasinya ga selesai-selesai". Pas mau turun bangku, gw tripped myself dan reflex megang ke si dokter. Tiba-tiba terdengar teriakan kompak kaya koor,"gak steriiiil". Uuups, sorry. 

Uuugh, terpaksa deh digiring keluar sama si suster. Kaya residivis. Saking malunya sampe kesandung-sandung. Kali ini gw disuruh duduk di preparation room, nunggu selesai aja. Jadi gw masih pakai cap dan scrub. Gw tunggu...tunggu...duuuh ada kehebohan apa itu di ruang operasi? Ada suara orang lari-lari, berisik, kaya barang jatuh. Deg-degan, tapi kalau ada apa-apa, si dokter pasti keluar lagi dong? Akhirnya ada suster yang lewat. "Ada apa sus, kok rame banget?" "Oooh, ada surprise party, Bu". Preeet banget, bikin gw senewen aja.

Lama juga nunggu di prep room, sambil nge charge smartphone dengan kabel yang melintang pas di tengah jidat. Mau gw geser tempat tidurnya, takut diomelin. I know I look ridiculous tapi ya mo gimana lagi? Kemudian keluar seseorang dengan scrub dan duduk di meja samping gw. Dia kasih instruksi,"Itu tadi pendarahan sekitar 800ml (kalau ga salah denger), siapin transfusi ya ". Waduuh, kayanya anak eike nih. "Eheem, maaf, itu anak saya yang pendarahan?" "Oooh iya dok. Biasa, kalau operasi scoliosis begini banyak keluar darahnya". Weeeits, denger dia panggil gw apa? DOKTER! Woohoo! Ketipu dese! Dehem-dehem dikit biar suara meyakinkan,"Oooh, biasanya dr Will Smith yang jadi asistennya?" "Iya dok, saya dokter dari Riau, baru datang". "Oh, welcome aboard ya, semoga sukses". Ketipuuuuuu....hahahaha. "Sekarang sedang apa di dalam?" "Anaknya sedang disadarkan, lalu test nerves, lalu pindah ke PICU". "Si dokter kemana?" "Oh, udah ke bawah, ada pasien yang nunggu mau operasi juga". Beeeuh...jago bener driftingnya.

Setelah itu datang dokter anastesinya, bilang Lilu sudah bisa dibawa ke PICU, Semua OK, anaknya sudah sadar walaupun masih teler tapi everything is OK. Kemudian anaknya keluar, matanya melek tapi kaya setengah sadar. Tapi bisa ngerti sih dibilang,"hi baby, ini mama". She was smiling weakly.

Thank you from the very bottom of my heart. Thank you for holding my baby's heart from the very beginning and for taking a very gentle care of her.

Thank you...


No comments:

Post a Comment