Monday, November 10, 2014

Following, Following, Following To You

"Spinal surgery is not without risk. Large exposure results in muscular denervation, intramuscular pressure increment, ischemia, necrosis and revascularization injury causing to iatrogenic injury (injury or sickness caused by medical treatment", Luthfi Gatam for Indonesian Spine Society.

Ciyus bingiiits yaa? Eeeh jangan ketipu, gw yang mengkutip aja hanya paham kira-kira 50% dari total tulisan, apalagi mengkutipnya sambil joget-joget nyanyiin lagu Maps nya Maroon 5
"All the roads you took came back to me, so I'm following the map that leads to you, the map that leads to you, ain't nothing I can do, the map that leads to you, following, following, following to you..."  Ga tau ya, kayanya cocok aja suasana kebatinan di saat nulis ini sama lagunya dan bahan bahasannya. Tapi cateeet, spine surgeon yang tulisannya gw kutip diatas wajahnya sama sekali ga mirip sama Adam Levine. But Adam has never been my type though, so you girls are fine. No competition here whatsoever.

Anyway, Lilu kan sudah pasti 99% akan melakukan operasi scoliosis. The date was set, everything has been settled, terus apa lagi? Oya, masih ada tuh permintaan dari boss untuk cari 2nd opinion dari spine surgeon selain si dokter. Tapi kan banyak pilihan spine surgeon di Jakarta? Ada yang tua, muda, ramput tebal tipis, tinggi pendek, langsing molig...hadeeuh mulai deh pembahasan agak-agak fisik. Salah banget lho ya nyari dokter hanya gara-gara tampilan fisik, jadi jangan karena wajahnya berbau Adam Levine langsung dipilih.


Atau langsung ditolak mentah-mentah karena penampilannya kaya Oompa Loompa di Charlie & The Chocolate Factory. 





Atauu buat yang udah tuaan dikit memilih karena tongkrongannya kaya idola remaja masa lalu alias artis gaek (gw ga sebut namanya takut kualat sm oma opa) lalu lantas teriak,"eureka! I have found someone!" Gak gitu caranya keleees!





Salah satu cara termudah dalam menseleksi kandidat spine surgeon itu adalah dengan melihat akreditasinya di level nasional, Asia maupun global. Kemudian, apakah yang bersangkutan itu memang sudah berpengalaman dalam mengoperasi kelainan tulang belakang untuk anak-anak dan remaja? Selanjutnya, apakah beliau berafiliasi dengan RS tertentu dan memiliki tim yang terpercaya dalam penanganan operasi tulang belakang anak-anak dan remaja. Setelah itu, pengalaman dan tingkat keberhasilan dalam menangani operasi tulang belakang alias jam terbangnyoo.

Gak perlu sewa detektif, cukup rajin-rajin browsing  aja (jangan browsing IMAGE ya, browsingnya WEB. Nanti bukannya dapet data malahan koleksi foto). Lalu interview beberapa ex pasien (jangan satu doang, harus lebih dari satu. Bagusnya sih angkanya ganjil, biar bisa simple majority, 1:2, 2:3, atau suara terbanyak. Namanya juga responden, kadang tergantung selera juga. 

Kepo untuk hal ini bagus, jadi kita tahu persis siapa yang dihadapi. Kalau dalam kasus gw, yang penting anak gw cocok sama dokternya. Kaya milih soulmate? Yup! Harus kaya gitu, karena instrumen yang bakalan dipasang di punggung itu harus jadi teman hidupnya. Tentu saja milih surgeonnya juga harus kaya milih soulmate (baca: selektif).

Gw yakin banyak yang ga sependapat, tapi kembali lagi ke prinsip dasarnya, harus suka sama suka. Tapi ya, gw itu kan memang suka anti mainstream. Jadi yaa balik lagi ke pendapat masing-masing. Gw ga mengarahkan kemana-mana, silakan pilih sendiri aja sesuai selera. Menurut gw sih, pasien punya hak untuk memilih (apabila memang ada pilihan), yang berlaku juga buat para penerima fasilitas pengobatan gratis. Jadi bukan berarti karena gratisan lalu ga punya hak suara. Tanya aja, udah jadi haknya kok. Tanya langsung sama dokternya kalau ada masalah atau pertanyaan, pastikan, ga usah pake perantara. Udah pada gede kaan? Gak dosa kok kalau mau tau apa yang dia mau kerjakan sama badan kita atau anak kita.

Browsing via internet juga ada kelemahannya. Ada beberapa dokter yang rajin main di sosial media, blogging, lalu berita dimana-mana. Tapi ada juga dokter yang sudah tergolong celebrity doctor, justru susah dicari beritanya, kalaupun ada, berita taun jebot semasa dese belum kondang. Yang begini nih pe er bingiiits. Kadang kepikiran, apa gw cari aja no plat mobilnya, gw kempesin pakai ranjau paku (bisa kempes ga sih kalau ban buat mobil dese? *mikir*) , lalu tunggu di pengkolan? Minimal sambil nungguin dese nambal ban, bisa gw interview *khayal tingkat dewa*.

Lilu memilih sendiri spine surgeonnya (sedikiiiit bantuan dari mama sih). Dia yang bikin balance score card dari masing-masing kandidat berdasarkan cara mereka bicara sama Lilu. Kadang mereka lupa bahwa pasien remaja itu sudah punya pendapat sendiri dan tidak bisa dianggap bahwa mereka tidak tahu, atau tidak perlu tahu karena sudah ada mama disisinya. Jadi ngomong semaunya seakan-akan dia hanya pelengkap penderita, padahal...she is the boss! Nulisnya iniiih sambil usaha nangkep hidung yang pindah ke jidat saking bangganya.

Salah satu dari kandidat bilang bahwa Lilu tidak disiplin dalam memakai brace karena tidak ada bekas lecet tanpa melihat sendiri benar atau tidaknya. Hanya dengan melihat dari kejauhan. Lilu tersinggung berat dan pulang ngambek,"aku ngga mau disana, aku hanya mau sama si dokter. Mama liat, ini ada bekasnya. Kenapa aku dibilang malas, padahal mama tahu kan aku ngga pernah lepas brace kecuali jam-jam tertentu yang memang boleh?" Oooh ga ada yang boleh bikin anak mama sedih seperti itu! Dziiiig! Dadababai.

Sebelum operasi, Lilu sendiri yang minta dipertemukan sama dokternya, karena dia merasa perlu untuk yakin dan pasti. Dan gw support karena menurut gw, bonding dan trusting dalam hal ini sangat penting. Pada saat post op dimana dia akan merasa sangat tidak nyaman, hanya trust ini yang akan nemenin dia, as he always said,"everything is gonna be OK". 

Pada saat ketemu, Lilu sudah siap dengan daftar pertanyaan. Lalu kita duduk bertiga, Lilu nanya, si dokter jawab, gw tugas mencatat (ga dimana-mana, tugas selalu berkisar pada minute meeting, bahkan sama anak sendiri). 

Lilu: Apa sih side effect dari operasi?

SD (Si Dokter, bukan Pak Sofyan Djalil apalagi Saiful Djamil pastinya): Ada 2 jenis, yang pasti dan belum tentu (ini beneran kutipan asli lho!). Yang pasti itu scar. Yang belum tentu itu adalah infeksi, alergi, fleksitis (pecah pembuluh darah. Yang ini ejaannya gw ga yakin bener karena berkali-kali nanya sampai dieja sama si dokter tapi gw masalah dengan pendengaran), sesak napas dan nyeri. Punya alergi ga?

Mama: Saya sih ada alergi antibiotik (gak bakalan gw sebut jenisnya disini). Saya juga ada sepupu yang para bombay, tapi gol darah kita A. Artinya ga bakalan kenapa-napa kan?

SD: Ya kita periksa semua lagi semua nanti di RS

Mama: Kenapa sesak napas, bukannya kalau lurus justru jadi lega?

SD: Iya betul. Tapi ada kasus tertentu karena tulang iga yang semula longgar di sisi tertentu dan rapat di sisi lain lalu menjadi rata kanan kiri, justru rasanya napas menjadi sesak karena paru-parunya harus menyesuaikan dengan posisi baru. 

Lilu: Risiko operasi itu apa aja?

SD: Yang ringan itu yang disebutkan tadi. Yang berat, kemungkinan paralized dan yang terburuk adalah kematian. Tapi jangan khawatir, sekarang teknologi udah canggih kok...*senyum-senyum*

Mama: Aku dengar bahwa ada pasien yang kecewa setelah dioperasi, karena merasa ada yang berubah. Apa benar ada kasus seperti itu?

SD: Haaah? Dengar darimana? Mana ada orang yang tadinya miring begini (mimicking tubuh miring dengan gaya hyperbola) lalu merasa lebih cantik daripada setelah jadi lurus? Sampai menyesal dioperasi dan pengen balik lagi seperti dulu? *monyong*

Mama:---- (terdiam dengan muka merah padam. Me and my big mouth....dammit, kenapa juga musti gw kutip pernyataan kamfretto itu). 


So I'm following the map that leads to you, the map that leads to you, ain't nothing I can do, the map that leads to you, following, following, following to you...Eureka!


Visit & Follow Lilu's Instagram @ camillalilu

3 comments:

  1. yiiiay!!.. keluar juga tu episode si oompa lompaa...toos dulu aah!! kereeen ka!! oneday ni journal bakal jadi buku!!! amiiinnn

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Icha. You are too kind, enggak bagus2 amatlah. Iya nih Oompa Loompa keluar tapi ga berani bikin cerita tentang dese. Takut di sue gw..hahaha

      Delete
    2. Tuuuh dedicate buat elo, gw posting wajah Oompa Loompa.

      Delete