17 Juni 2014
Good morning world, our first morning at the hospital. Buru2 rapikan tempat tidur dan buka notebook. Karena ga ada meja kerja, notebook gw taro di atas tempat tidur kosong, yang dialasin pakai kain taplak Flores. Lalu bikin kopi dan taro gelas kopi diatasnya.
Meneketehe ternyata di RS ini setiap pagi, ada inspeksi dari Mbak2 yang tugas supervise kamar. Gilingan, dia masuk bersama suster-suster yang shift malam dan pagi, ngenalin namanya dan asli dia melototin "meja kerja" gw. Saking senewennya sampe tumpah itu kopi kesenggol tangan, Duuh maafkan daku Mbak.
Keuntungan masuk RS yang belum rame adalah, susternya bisa dinego. Jadi ga harus mandi jam 6an, boleh-boleh aja minta mandi rada siangan. Malah duluan gw yang mandi daripada anaknya. Bukan karena rajin tentunya, karena gw harus cari sarapan. Tapi ya, itu RS lokasinya bener-bener kaya di no man's land. Warung belum buka, ga ada apa-apa. Yang tersedia hanya Delifrance. Kopinya lumayan nendang laah. Keuntungan kedua, mereka cukup generous dengan air panas, jadi ga usah khawatir untuk urusan seduh menyeduh. Tapi nyokap dan adik gw sayaang banget sama kita, setiap pagi datang dengan berbagai sarapan enak, jadi ya I have no complaints laah. Yang ada malahan over supply karena gw lagi diyet.
Ini Lilu di EKG, jam 7an pagi. Anaknya belum mandi, blum sikat gigi. Hari ini ga banyak kegiatan. Hanya ada visit dari dokter anastesi. Besok bukan dia yang menganastesi, tapi dia datang on behalf dokter anastesinya. Menurut beliau, risiko pendarahan pada operasi scoliosis anak-anak dan remaja jauh lebih tinggi karena dokter anastesi ga bisa menurunkan blood pressure untuk menekan pendarahan sebagaimana layaknya pada orang dewasa. Makanya bisa dipastikan bahwa persiapan kantung darah itu diperlukan.
Bius jaman sekarang udah canggih. Ga perlu lama-lama nunggu siuman, tapi "dibangunin" begitu operasi selesai. Setelah itu, pain killer dikasih lewat infusnya. Beda sama orang dewasa yang "dipersenjatai" pain killer yang tinggal pencet tiap kali berasa sakit (which is really cool). Kata dokter anastesinya buat anak-anak ga bisa pakai yang model seperti itu karena isinya morphine yang efeknya mual-mual parah.Hari ini Lilu mulai suntik vitamin. Yang paling parah itu suntik Vit C. Masalah yang pertama rasanya perih banget dan masalah kedua, ternyata perut Lilu ga kuat. Jadi anaknya muntah-muntah ga lama abis disuntik Vit C. Trus ga tau kenapa. 3way nya macet-macet melulu, jadi kalau disuntikin obat, Lilu selalu kesakitan. Akhirnya sama dokter anastesinya disuruh campur cairan infus aja biar bisa lancar masuknya.
Oya, buat orang tua yang jaga anaknya, gw saranin untuk memastikan schedule suntik, obat apa aja yang disuntikkan dan untuk apa aja, khususnya sebelum kasih tanda tangan. Kenapa mereka butuh tanda tangan kita? Karena once you gave them your signature, kalau ada kesalahan, kita otomatis juga salah karena tanda tangan di dokumen itu adalah bukti bahwa yang bersangkutan sudah diberi kesempatan untuk memeriksa dan memberikan persetujuannya. This is your lawyer talking to you. Gw alamin sendiri, ternyata sempat ada suntikan yang missed dan baru ketauan karena gw cek schedule jamnya dan obat apa yang disuntikkan. Freak control? Ga percaya sama suster? Call me whatever you want, gw ga peduli. Ini adalah hak kita untuk tahu dan memastikan bahwa semua sudah sesuai dengan protokol RS dan catatan dari dokter.
Di sisi lain, in between urusan schedule suntik dan visit dokter, sekretaris kantor nelpoooon melulu. Karena entah gimana RUPS Tahunan kantor malah dipilih di hari yang gw bener ga bisa datang, hari operasi. Padahal jauh-jauh hari gw udah bilang ke corpsect pemegang saham yang satu lagi bahwa gw ga bakalan bisa hadir. Kebayang ga sih nge remote history dokumen tanpa liat berkasnya langsung? Sementara nyawa udah ga ada di kantor, semua sudah fokus di RS. Daaan, I swear, ini yang super aneh. Dokumen yang dipermasalahkan adalah dokumen yang Oktober tahun lalu terpaksa direvisi orang lain karena pada saat itu, corpsect yang sama minta revisi dan gw sedang cuti.. ke Bali. Polanya bisa sama persis gitu, waktu itu gw remote dari pantai Seminyak (sementara yang lain leyeh-leyeh di La Plancha, gw sibuk kasih arahan every single words tinggal diketik di Jakarta), dimana saat ini gw remote dari depan lift lantai 3 di RS.
Setelah semua suntik selesai, makan malam, kita tinggal nunggu kedatangan si dokter. Jam 7...jam 8...jam 9...jam 10! Galaw, haruskah ganti baju tidur atau tetap pakai jeans? Jangan sampe 2x gw dikatain dokter kaya pasien aja tidur di tempat tidur kosong. Tapi gimana kalau dia ga datang visit? Jam berapa sekarang?
Bius jaman sekarang udah canggih. Ga perlu lama-lama nunggu siuman, tapi "dibangunin" begitu operasi selesai. Setelah itu, pain killer dikasih lewat infusnya. Beda sama orang dewasa yang "dipersenjatai" pain killer yang tinggal pencet tiap kali berasa sakit (which is really cool). Kata dokter anastesinya buat anak-anak ga bisa pakai yang model seperti itu karena isinya morphine yang efeknya mual-mual parah.Hari ini Lilu mulai suntik vitamin. Yang paling parah itu suntik Vit C. Masalah yang pertama rasanya perih banget dan masalah kedua, ternyata perut Lilu ga kuat. Jadi anaknya muntah-muntah ga lama abis disuntik Vit C. Trus ga tau kenapa. 3way nya macet-macet melulu, jadi kalau disuntikin obat, Lilu selalu kesakitan. Akhirnya sama dokter anastesinya disuruh campur cairan infus aja biar bisa lancar masuknya.
Oya, buat orang tua yang jaga anaknya, gw saranin untuk memastikan schedule suntik, obat apa aja yang disuntikkan dan untuk apa aja, khususnya sebelum kasih tanda tangan. Kenapa mereka butuh tanda tangan kita? Karena once you gave them your signature, kalau ada kesalahan, kita otomatis juga salah karena tanda tangan di dokumen itu adalah bukti bahwa yang bersangkutan sudah diberi kesempatan untuk memeriksa dan memberikan persetujuannya. This is your lawyer talking to you. Gw alamin sendiri, ternyata sempat ada suntikan yang missed dan baru ketauan karena gw cek schedule jamnya dan obat apa yang disuntikkan. Freak control? Ga percaya sama suster? Call me whatever you want, gw ga peduli. Ini adalah hak kita untuk tahu dan memastikan bahwa semua sudah sesuai dengan protokol RS dan catatan dari dokter.
Lalalili lalalili sama Lilu ngobrol buat killing time, akhirnya kuping mendengar suaranya menggelegar di nurse station. "Lil, kayanya itu si oom datang deeh, kedengeran suaranya berisik banget". Tapi terus kriiiik...kriiiik...kok sepi? Lama juga ga kedengeran bunyi apa-apa lagi dan tiba-tiba...gubraaak, pintu kamar terbuka lebar. Gw freeze di kursi, hadeeeuh apaan itu? Sreseeet, tirai dibuka lebar. Nyaris jatuh dari kursi saking kagetnya.
SD (Si Dokter): Aaah, mamaaaa! Mama sudah disini, sudah aman dooong! Ayo sini sayang, diliat dulu. Lalu dia liat punggung Lilu, shadowing gerakan mendorong, lalu,"okee. siiip!
Mama: Apanya yang sip?
SD: Ya udah sip.
Suster: Dokter, anaknya trauma sama test allergy. Katanya takut sakit.
SD: Ga bisa, harus. Sedikit aja kok, harus test. Bahaya itu kalau ga ditest. Setetes juga bisa bahaya, kalau ada apa-apa, mama bisa marah besaaaar! Bahayaaa, mama bisa maraaaah!
Mama: Kata suster ada cara lain, yang ditetes gitu atau apa?
Dokter Jaga (dengan muka agak jutek): ooh yang pakai "beep" (lupa gw).
Mama (ga mau kalah jutek): mana gw tau namanya apa?
Mama (ga mau kalah jutek): mana gw tau namanya apa?
Dokter Jaga: ____ (lompat ngumpet di belakang si dokter)
SD: Sus, besok siap jam 6.30 pagi di ruang operasi ya? Eeh besok katanya kamu mau liat operasinya? Kuat apa? Ntar pingsan lagi!
Mama: Pingsan? Gak bakalan! Aku kuat kok (sambil tolak pinggang gaya si Pitung sambil ga lupa melototin dokter jaga yang buru-buru ngumpet lagi di belakang punggung Si Dokter).
SD: Kita liat besok ya. Malam ini kita final xray. MRI udah kan kemarin?
Ini RS unik banget. Seneeng banget mulai prosedur di tengah malam. Si dokter selesai visit sekitar jam 11an. Kita nunggu...nunggu...nunggu...dijemput-jemput jam 00.00 sharp. Untung ga berubah jadi labu. Gw diminta tunggu di ruang tunggu VIP (kayanya cuman satu deh ruang tunggu di radiology). Pencet-pencet cari CSI alih-alih malah nonton acara masak memasak di Taiwan. Pilihan yang salah bingiiiits, lapar dan kedinginan adalah kombinasi yang buruk. Oya, walaupun ruangan ini judulnya fluoroscopy, tapi mesin xray nya ada di dalamnya. Trust me!

Selesai-selesai jam 01.30 pagi. We both were tired and hungry. Sampai kamar, cek air panas di termos...aah masih ada! Siip, ambil coffee latte tropicana slim dan campur sedikit susu dan masih ada butter croissant yang tadinya gw mau makan buat breakfast. Lilu sendiri dapet late night snack karena dia harus puasa mulai jam 2 pagi.

Kita ketawa-tawa, saling tukar cerita. Santai aja seakan-akan besok (uups hari ini) is another ordinary day, bukan hari dimana Lilu akan operasi besar. Around 2am I tucked her up, kissed her forehead and bade her good night.
Visit & Follow Lilu's Instagram @ camillalilu
SD: Sus, besok siap jam 6.30 pagi di ruang operasi ya? Eeh besok katanya kamu mau liat operasinya? Kuat apa? Ntar pingsan lagi!
Mama: Pingsan? Gak bakalan! Aku kuat kok (sambil tolak pinggang gaya si Pitung sambil ga lupa melototin dokter jaga yang buru-buru ngumpet lagi di belakang punggung Si Dokter).
SD: Kita liat besok ya. Malam ini kita final xray. MRI udah kan kemarin?
Ini RS unik banget. Seneeng banget mulai prosedur di tengah malam. Si dokter selesai visit sekitar jam 11an. Kita nunggu...nunggu...nunggu...dijemput-jemput jam 00.00 sharp. Untung ga berubah jadi labu. Gw diminta tunggu di ruang tunggu VIP (kayanya cuman satu deh ruang tunggu di radiology). Pencet-pencet cari CSI alih-alih malah nonton acara masak memasak di Taiwan. Pilihan yang salah bingiiiits, lapar dan kedinginan adalah kombinasi yang buruk. Oya, walaupun ruangan ini judulnya fluoroscopy, tapi mesin xray nya ada di dalamnya. Trust me!
Selesai-selesai jam 01.30 pagi. We both were tired and hungry. Sampai kamar, cek air panas di termos...aah masih ada! Siip, ambil coffee latte tropicana slim dan campur sedikit susu dan masih ada butter croissant yang tadinya gw mau makan buat breakfast. Lilu sendiri dapet late night snack karena dia harus puasa mulai jam 2 pagi.
Kita ketawa-tawa, saling tukar cerita. Santai aja seakan-akan besok (uups hari ini) is another ordinary day, bukan hari dimana Lilu akan operasi besar. Around 2am I tucked her up, kissed her forehead and bade her good night.
Visit & Follow Lilu's Instagram @ camillalilu

No comments:
Post a Comment