Finally, tiba waktunya check in ke RS. Berhubung masuk RS nya bukan karena sakit tapi karena memang janjian mau operasi, jadi lebih nyantai dalam proses persiapannya. Sampai Minggu malam masih kelayapan ke salon, telp2an arrange persiapan besok dan makan malam (by myself as usual). Yaah namanya mau seminggu nginep disana, kudu siap mental spiritual.
Sampe rumah, banyak bener tumpukan baju yang belum dimasukkin koper. Traveling ke Bali sama ke RS ternyata sama aja rempongnya. Hair dryer, catok, sepatu, kaos kaki, comforter (selimut yang selalu disebut "bed cover" seperti kebiasaan orang nyebut setrika dengan "triska"), bantal hello kitty (asumsi kan ngemper), sleeping bag, sabun, shampoo, lotion, blablabla.
Bukannya ganjen looh, inget petuah oma Coco Chanel,"I don't understand how a woman can leave the house without fixing
herself up a little - if only out of politeness. And then, you never
know, maybe that's the day she has a date with destiny. And it's best to
be as pretty as possible for destiny." Yaaa siapa tau kaan, you will never know, so better be prepared.
Lagi tengah-tengah packing...jebreeed! Lampu mati! Waduuh, mana besok jam 9 pagi udh kudu disana lagi. Gw melek semalaman karena senewen, kepanasan dan karena mikirin sisa gembolan yang belum masuk koper. Sekitar jam 2an pagi baru nyala lagi tu lampu. Tapi udah kadung ngantuk berat, ya udah cuekin aja dulu.
Bukan gw kalau tanpa drama. Paginya semua terbirit-birit karena packing belum beres. Sementara kan tiada hari tanpa maceeet dari arah BSD ke Simatupang. Semua barang yang terlihat di permukaan lantai lempar masuk koper. In total, 3 koper yang akhirnya siap diangkut.
Udah masuk mobil...aduh eta Gustiiii, kucing gw, Dangwa the Cat, kabur dengan kecepatan flash ke arah rumah tetangga. Buru-buru turun dari mobil karena akhir-akhir ini security sering naik motor dengan bermodalkan jaring ikan untuk nangkep binatang-binatang yang berkeliaran (sumpah bukan gw yang nyuruh, Ketua Perhimpunan Penghuni gw *punyapowerkatanya*. Untungnya pagi itu si Dangwa lagi males kejar-kejaran jadi pasrah aja waktu gw gabruk di halaman tetangga.
Ga sampe 10 menit jalan, tiba-tiba perut gw melilit parah banget. Akhirnya kita berenti dulu di McD, pesen makan dan minum sambil nunggu gw selesai menjajah restroom mereka. Untung aja mereka buka 24 jam. kalau enggak, waduuh ga tau deh gimana nasib eike.
Akhirnya tibalah kita di RS dan langsung ke Emergeny Room. Namanya RS masih baru, sepiii banget. Lilu disuruh tiduran di salah satu tempat tidur tapi lamaaa ngga ngapa-ngapain. Sementara Lilu terdampar di Emergency Room buat nunggu kamar siap, gw diminta beresin administrasi. Lumayan lama juga urus admin karena dokumen yang seharusnya sudah disiapkan entah ada dimana dan mereka sibuk cari arsipnya.
Selesai tanda tangan segala macem dokumen administrasi, gw balik ke Emergency Room. Lilu, mama dan adik gw masih disana, nunggu. Ga lama kemudian datang front linernya diikuti oleh security, yang excited banget menawarkan Lilu buat duduk di kursi roda. Tentu saja anaknya ngga mau, mana ada anak abg doyan didorong-dorong pake kursi roda.
Setiba di kamar, beres-beres barang dan Lilu mulai dipersiapkan untuk pemeriksaan persyaratan operasi. Diawali dengan semua yang di kamar wajib belajar cara mensterilkan tangan dengan menggunakan hand sanitizer sebagai bagian dari Standard Operation Procedure (SOP) RS yang sedang menggalakan gerakan wajib cuci tangan. Kita sih ketawa-tawa, tapi sebenernya cara membersihkan tangan yang benar itu penting banget. Dan ternyata ritualnya ngga seperti cara kita pakai hand sanitizer pada umumnya.

Pasang 3way buat persiapan masukin obat-obatan dan vitamin. Disini rada masalah, soalnya pembuluh darah Lilu itu kecil dan halus. Karena RS masih baru dan susternya juga kurang latihan, jadi gagal-gagal terus. Gw akhirnya make the call,,"kalau memang ga bisa, jangan dipaksa begitu. Kasian anaknya kesakitan sampai berdarah-darah gitu tapi gagal terus. Cari yang bisa deh mendingan".
Akhirnya susternya menyerah dan nyari suster senior yang biasa cari pembuluh darah baby buat pasang infus. Lumayan lama juga nunggu suster itu datang, tapi memang yang ini jauh lebih bagus, Raba-raba sebentar, dapet pembuluh darahnya. Cuman karena susternya biasa pegang baby dan anak-anak, jadi bingung dia mendefinisikan anak umur 14 tahun itu kaka apa dede? Akhirnya dia memutuskan karena anaknya terlihat kinyis-kinyis...jreng jreng....Teddy Bear!
OK, semua beres, infus sudah masuk, tinggal nunggu dokter visit. Ga lama, visit dokter anaknya. Dokternya terkenal, lebih dari senior. Waktu dia periksa, posisi Lilu sedang berbaring. Lalu dia coba tes refleks. Katanya Lilu has slow refleks. Lalu dia minta liat xray....dammit! Itu xray ngga kebawa, cobaaa? Ketinggalan di rumah. Tapi ga kehilangan akal, tentunya semua data masuk di smartphone gw.
Waktu dia liat, menurut beliau mass bone density nya kurang, tidak merata. Early sign of osteoporosis katanya. Waduuuh, osteoporosis ga bisa operasi scoliosis dong. Bisa-bisa tulangnya remuk waktu dipasang instrumennya. Lilu disarankan untuk minum susu high calcium. Mulai senewen....siapa yang harus dipercaya? This old famous pediatrician or si dokter? Adik dan nyokap gw tentunya berusaha menenangkan, agar gw ga goyah. Tetap percaya sama si dokter. Dia kan spine surgeon, sedangkan yang ini pediatrician. Nyokap dan adik gw adalah pilar kekuatan gw selama ini, ga tau gimana caranya bisa tetap waras after all I have been through kalau ga ada mereka. Bukan hanya karena masalah scoliosis tapi banyak hal lainnya.
Abis gitu, tinggal nunggu visit dari asisten si dokter, selanjutnya kita sebut aja Will Smith (maleeem pastinyooo) dan dokter anastesi. Sambil nunggu sore, gantian gw yang site visit ke warung bakso seberang RS dan survei makanan. Lumayan sih baksonya. Ada es jeruk, es teh manis, yaaah standard bakso kampunglaah.
Di Lobby Level ada Delifrance. Patisserie nya enak-enak, love the croissants. Spicy nachos nya juga recommended. Kopinya juga OK, gw biasa mesen cappucino biar a bit strong. Cuman sedikit aja isinya (walaupun pada kenyataannya ga pernah habis secangkir juga sih). Sangat menghibur buar pelipur lara di saat sedang dilanda kebosanan.
Kita stay di Kelas I karena based on da rules, kalau dapat keringanan ga bisa stay di VIP (walaupun based on policy kantor gw dan anak gw haknya di VIP). Kenapa begitu? Karena beda harga charge untuk visit dokter dan biaya administrasinya. Jadi kita harus share kamar yang bednya ada 2. Tapi sampai malam belum ada yang masuk, jadi gw gelaran sleeping bag buat alas kasur, comforter buat selimut dan bantal Hello Kitty. Kata Lilu,"mom, your bed looks so cozy. Kaya di hotel".
Jam 11an, tiba-tiba pintu terbuka, tirai ditarik keras dan ada yang teriak,"ooy! Bangun lo! Kaya pasien aja". Kamfretto...Will Smith, sang asisten datang. Gw sampai lompat saking kagetnya. Terus dia minta liat xray Lilu, yang ketinggalan. "Gimana sih looo? Xray kok bisa ketinggalan?" Okay, okay, Will Smith, I get the idea how stupid does it sound. But you have no idea of what was going on unless you read my blog, dear doctor!
Setelah doc Will Smith pulang, Lilu mulai MRI. Lamaa bener itu MRI, saking lamanya Lilu sampai nyanyi-nyanyi di dalam tube nya. Dan gw terkantuk-kantuk di samping tube, duduk di kursi. MRI selesai sekitar jam 00.30 pagi.
Visit & Follow Lilu's Instagram @ camillalilu

No comments:
Post a Comment