Monday, November 3, 2014

Ceramah 4 SKS di Workshop Pak Hadi

28 Agustus 2013

Sesuai hasil perundingan 8 mata (karena keduanya sama2 bolor) dengan si dokter, gw  harus segera menemui sang brace maker, the famous Soelarno Hadi. 

Rumah dan workshopnya di Jalan Taman Sari I No.4 dan 5 Lebak Bulus, Cilandak, Jaksel. Karena ga tau jalan, sibuk mempersiapkan GPS (di smartphone la hai, mana punya gw Garmin, baca peta aja gak becus) dan mencatat setiap petunjuk belokan. Untungnya beliau sangat chitter chatter, jadi sampai detail petunjuknya, misalnya...Lebak Bulus I, ketemu lampu merah, RS Mayapada terus lagi, ketemu mesjid dan seterusnya. Udah gw catet dunks dan tetap aja ga paham...*lost in translation*. Masih untungnya lagi (kalau drafting udh ga sahih nih mengulang 2 kata-kata dalam satu napas), mantan supir waktu itu bekas supir orang Korea yang apartmentnya di Bona Indah. Jadi dia bisa punya gambaran kemana mobil kita harus menggelinding.

Sampai di lokasi, panasnya neeeek, bujubuneng! Secara yang datang full team, nyokap, adik gw, Lilu dan gw sendiri. Lalu ketemu Pak Hadi dan masuklah kita ke "ruang praktek" beliau yang crampy banget diisi kita berempat. Berlima sama dia. Umurnya mungkin sekitar 60an, waktu kita datang dia pakai training dan ramput cepak ala2 ABRI.

Awal pertemuan dibuka dengan sejarah scoliosis di Indonesia dan bagaimana dia dan Prof Soebroto Sapardan alm saling berkolaborasi dalam meperjuangkan pasien scoliosis dimana RS Fatmawati adalah The Mecca of Indonesian Spine Surgeons (baca: ceramah 4 SKS). Gimana Prof Soebroto punya catatan untuk setiap pasiennya yang dia tulis sendiri di kertas A3 dan betapa telitinya beliau dalam mengukur kurva pasiennya. Katanya Prof itu gualaaaak sama si dokter (pantesan dia ketawa2 aja berdebat sama gw yang hampir selalu berhasil nyaris bikin orang kena darah tinggi minimal berkhayal ngasah golok...keciiil cuman ngoceh2 cantik doaang!). Kata Pak Hadi, dia pernah dibentak karena berniat mau bawain tasnya Prof,"kamu tau ini isinya apaaa?? INI UANG!"  Waduuuh, langsung pengen sungkem minta maaf udah marah-marah kemarin. 

Jadi in a nutshell, Pak Hadi itu "diwariskan" ke si dokter oleh Prof Soebroto alm (percaya ngga, sekarang berasa kaya lagi ngomongin oom sendiri saking lengkap ceritanya). "Tapi yaah, namanya anak jaman sekarang (deeuh Pak, anak jaman sekarang mah Lilu, keleeeeus) beda gayanya ngga seperti Prof. Ngukur maunya cepet2 aja, ngga sempet jelasin ke pasien karena antrian banyak. Saya aja jaraang sekali ditelp sama si dokter. (hmm, jadi nelp gak sih janji mau mintain diskon?). Tapi segitu juga, dia sampai operasi 2x lho karena kelamaan berdiri terus...hihihi," kata Pak Hadi sambil cengengesan puas.

Sebagai mantan asisten Prof, dia banyak mengikuti napas tilas alm. Gimana proses dari pasien dibikinkan brace, sampai harus operasi. Kalau sama Pak Prof, semua pasien harus di kotrel dulu 2 minggu biar spinenya fleksibel. Setelah itu, baru operasi. Mula-mula punggungnya dibelah dua, lalu bagian spine yang seperti ikan pari digunting..."taaak! taaak...putus!" buat dipakai nutup titaniumnya (lebih horror dari Chucky ekspresinya), lalu dipasang diatas rodnya. Setelah itu (di eranya dia) badan pasien di gips selama 3 bulan. "Menderita banget lho". Setelah 3 bulan, gips dibuka. Bukanya juga pake upacara, bukan mandi kembang tapi mandi bensin. Karena lapisan dakinya jadi tebel banget, hanya bisa dibersihkan pakai bensin. "Jadi saya guosooook dulu sampai bersih".
 
Lalu katanya, kalau rajin pakai bracenya, mudah-mudahan bisa terbantu hingga ga perlu operasi. Tapi harus rajin dipakai dan exercise (diajarin sama dia cara push up dan side bending). Pak Hadi jago banget bikin prosthetic (alat pengganti anggota tubuh yang hilang/amputasi) dan orthotic (brace). Sempat dikirim untuk melatih para prosthetic di Palestina. Masih banyak ceritanya tapi kayanya udah kena heatstroke jadi amnesia dia cerita apaan lagi.

Ceritanya sih seru, tapi karena ruangannya kecil, AC angin semilir sayup-sayup sampai, ruangan penuh, nyaris kepala ikutan terkulai layu. Hati sibuk berdoa, semoga ceramah Prof Soebroto segera tamat. Syukur alhamdulillah, habis napas juga dia cerita soal si Prof. Mulai dia mengukur2, yang in total prosesnya gak sampe 10 menit selesai. Setelah mencatat measurementnya, lalu dia mengangkat kepala sambil senyum lebar,"naaah, balik lagi 2 hari lagi yaaa!" 

Berangkat dari jam 9an, keluar workshopnya menjelang jam 12 siang. Otak penuh dengan ceramah scoliosis dan Prof Soebroto Sapardan dan kengerian mencekam 2 hari lagi dapat ceramah tambahan karena tadi ngga mendengarkan dengan baik (takut ditanya-tanya kaya ujian). 

But I can see the light at the end of the tunnel...






Visit & Follow Lilu's Instagram @ camillalilu

1 comment: