Tuesday, November 4, 2014

Balada Kerupuk Jengkol di Warung Depan Workshop Pak Hadi

Tiba saatnya untuk brace fitting di workshop Pak Hadi. Gossip time! Woohoo! 

Seperti biasa, kita langsung digiring ke "ruang prakteknya". Tapi alas! Itu brace belum selesai benar, jadi kita harus tunggu dulu sampai semua beres dan bisa difitting sebelum difinalisasi. Yuuk mareee, begitu Pak Hadi meleng ke workshop, kita bergiliran kabur keluar ke seberang workshopnya.

Di seberang workshopnya ada warung rumahan. Lumayan lengkap isinya, tapi yang paling heitz dan sangat recommended adalah koleksi kerupuknya. Gilaaa, endes semua! Mulai dari kerupuk kulit, kerupuk bawang sampai kerupuk jengkol! Deeeuh itu kerupuk jengkolnya enaaaak! Murah lagi, kalau gak salah seribu perak seplastik. Asli, sekarang kalau inget menyesal deh gak borong sekarung plastik aja, ga ada lagi deh lawannya itu kerupuk jengkol Pak Hadi. Awalnya kita beli sedikit doang, karena niatnya mau beli minum. Seret bow, kaya di gurun sahara. Trus diem-diem keluarin plastik kerupuk. Makannya kaya anak nakal di kelas, buka seplastik lalu lempar ke orang sebelahnya. Tapi karena ternyata yummy, gantian shift yang tadi tugas jaga ruangan yang berangkat belanja ke warung. Jadi, gw suggest banget buat yang disuruh datang bikin brace ke Pak Hadi untuk belanja kerupuk. Fungsi banget buat pelipur lara.

Gak lama, beliau balik ke ruangan. Kali ini dia kasih liat foto2 pasien dan Prof Soebroto. "Cakep kaaan"...iye deh Pak, cakeeep. Emang cakep sih ternyata. Terus ngebahas beberapa kasus lagi sampai akhirnya bracenya siap di fitting. Yang bawa adalah putrinya yang paling kecil kalau tidak salah. Kakaknya ngga mau jadi brace maker, mau kerja kantoran aja. Jadi yang perempuan yang mewarisi ilmu Bapaknya. "Lagi digembeng" katanya. Lalu kita fitting dan setelah selesai, kita janjian untuk "ketemuan" di RS untuk xray dan diukur berapa derajat.

Kamis berikutnya kita ketemuan di RS. Semua tergesa2 berharap sekali agar hasil xray menunjukkan perkiraan koreksi yang bisa dicapai dengan pemakaiannya. Saking semangatnya, adik gw sampe salah manggil-manggil orang,"Pak Hadi, Pak Hadi!". Dan si orang itu dengan wajah agak shock menoleh, kenapa ya ada cewe berjilbab mengejar dengan penuh semangat. 

Akhirnya beliau datang dengan putranya. Lalu kita xray dan baca hasilnya dengan si dokter. Hasilnya menggembirakan, dari 58 derajat turun sampai 30 derajat. Kata si dokter...tuh dia diskonnya, bisa turun hampir 50% kaan? 

Kita semua pulang dengan hari berbunga2, membawa secercah harapan baru. Masih harus lihat 3 bulan lagi, tapi at least sudah mulai ada gambaran yang lebih jelas untuk solusinya.

Thank you Pak Hadi, for making the world a better place...you will always have a special place in my heart, dear Sir.


Visit & Follow Lilu's Instagram @ camillalilu

1 comment: