Di penghujung tahun 2017 ini, Mas Adi Wijaya mengirimkan email yang berisikan kisah hidupnya sebagai mantan penderita TB tulang dan scoliosis.
Ceritanya sederhana, mungkin biasa aja buat orang-orang yang biasa mengobati pasien seperti beliau, tapi buat saya, kisah hidup Mas Adi sangat menyentuh. Bahwa untuk jadi dokter super specialist, ga cukup punya otak super genius, jadi a million dollar surgeon dengan reputasi yang rocketing sky
high. To touch someone's heart and soul and giving him a courage to face
his future, you need to act as a human being. Humble, down to earth super doctor. The maestro.
Dan
buat Mas Adi sendiri, gw ga mampu berkata-kata, air mata gw
berlinang-linang saat mengedit tulisannya. Gw bisa membayangkan
kegundahannya dan buat Ibu Mas Adi yang luar biasa, yang ga mengenai
menyerah dan tetap berupaya memberikan yang terbaik untuk putranya. May
Allah Bless You, Ibu.
Let's make the world a better place. Mulai dari yang paling mudah aja, memberikan perhatian dan kasih sayang. Gw dan Lilu berharap yayasan kita bisa segera dibentuk dan kita bisa giving more in years to come.
Eka Sjarief
__________________________________________________________________________
Assalamualaikum.
Salam Kenal Sobat E&L.
Perkenalkan Saya Adi Wijaya (33
Tahun). Saya Dari Lampung, mau berbagi sedikit pengalaman Di Page Ini..
:)
Saya adalah salah satu Skolioser..Tapi
bukan skoliosis murni. Saya menderita skoliosis yang disebakan karena terserang
Tuberculosis (TB) tulang di tahun 1996.
Cerita saya diawali pada saat usia
saya 12 tahun. Yang saya ingat, sewaktu tengah asik bermain, saya terjatuh dan
tiba-tiba tulang belakang saya menjadi miring. Kemudian saya dibawa ke RSUP
Persahabatan dan pada saat itulah saya divonis terkena TB tulang dan telah
menyebabkan rusaknya 2 ruas tulang belakang. Saya sangat terkejut…shock. Saya
sempat coba mencerna kata-kata dokter…bahwa saya sudah dijadwalkan untuk
operasi. Tidak hanya satu kali, tapi dua kali dengan catatan keberhasilan
50-50. “Ini spekulasi”, katanya. Saya menolak…ngeri mendengarnya… :D
Sebagai alternatif tindakan operasi,
saya memilih untuk minum obat TB. Setelah kurang lebih 1,5 tahun, TB saya
dinyatakan negatif. Saya sangat senang! Saya berpikir dengan dinyatakan negatif
artinya TB saya sudah sembuh total dan selesai perkara. Titik.
Ternyata malah sebaliknya :(
Tidak lama setelah dinyatakan negatif,
kondisi saya semakin parah. Kedua kaki saya makin lemah pada saat dipakai
berjalan dan badan saya semakin terlihat miring. Akhirnya saya tidak bisa
berjalan lagi. Masih belum mau operasi, kami sekeluarga terus berupaya mencari
solusi alternatif yang terus kami jalankan selama 2 tahun sampai tahun 2001.
Perlahan-lahan saya mulai bisa berjalan lagi walaupun tidak sesempurna dulu.
Tapi…kondisi kemiringan tubuh saya tidak berubah bahkan semakin parah.
Namun…kondisi inipun tidak bertahan
lama. Pada tahun 2008 kondisi saya kembali memburuk. Saya tidak lagi mampu
berjalan dan kali ini ditambah dengan rasa sakit yang demikian menyiksa dari
ujung kepala hingga ke ujung kaki, rasanya seperti yang ditarik-tarik terus
menerus. Kedua kaki tertekuk tidak bisa diluruskan. Namun saya tetap pada
pendirian saya, TIDAK MAU OPERASI. Saya memilih terus berupaya mencari alternatif
di luar pengobatan medis sampai puncaknya di tahun 2010.
Di tahun 2010 saya sudah tidak tahan
lagi. Saya menyerah dan memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Masih hangat
dalam ingatan saya, pada tanggal 7 November 2010 kami berangkat ke RS Fatmawati
sebagai rumah sakit rujukan dari daerah. Berangkat dengan niat sembuh dan
berpegang pada keyakinan pada kuasa Allah, saya disertai Ibu dan adik perempuan
berangkat ke RS Fatmawati di Jakarta. Saya langsung masuk UGD RS Fatmawati.
Sewaktu masuk di UGD, dokter jaganya
minta lihat hasil ronsennya. Tidak lama kemudian, dokter residen bagian
ortopedinya datang (lupa siapa namanya) dan malah bingung baca hasil ronsennya,”jadi
ini mau diapain, Mas?” Saya jawab,”terserah Dok, yang penting sakitnya hilang”.
Setelah menunggu sekitar 3-4 jam lamanya, akhirnya saya dipindahkan ke ruang
rawat di Gedung Prof Soelarto Lantai 1. Sejak saat itulah saya resmi dinyatakan
sebagai pasien RS Fatmawati…
Petualangan sayapun dimulai…hehehe
Setiap pagi saat visite, saya menjadi
pusat perhatian para dokter-dokter residen, yang cukup menjanjikan karena
setiap datang selalu bilang,”sabar ya, kami sedang mencari solusinya”. Dan
akhirnya, seminggu kemudian saya bertemu dengan Ketua Tim Ortopedinya, DR dr
Luthfi Gatam SPOT (K) Spine (panjaaaang yaa, kita sebut aja dokter Luthfi).
Dokter Luthfi minta saya di MRI dulu, karena kondisi kaki saya yang sulit
diluruskan. Dan sebelum ada tindakan lainnya, Dokter Luthfi minta saya dipegang
Tim Rehabilitas Medik untuk meluruskan kaki dan bisa di MRI.
Lumayan lama juga saya dipegang Tim
Rehabilitasi Medik. Alhamdulillah, saya dipegang oleh salah satu dokter
terbaiknya, yaitu dr Indriati Tobing (dr Ria) dengan dibantu dr Lulus
Hardiyanti SpKFR yang sekarang bertugas di RUPS dr Sardjito. Saya dibuatkan
alat untuk membantu mempercepat proses pelurusan kaki hingga perlahan-lahan
kaki yang semula tertekuk bisa menjadi lurus walaupun belum lurus sempurna.
Pada bulan Februari 2011, Alhamdulillah saya bisa di MRI dan langsung dibawa
residen dokter untuk dibaca Dokter Luthfi.
Selang beberapa hari kemudian,
dokter residennya datang menemui saya dan Ibu untuk membahas hasil MRI:
Dokter : Pilihan melakukan
operasi sangat berisiko karena berpotensi terkena kepembuluh darah besar dan
berimplikasi kematian atau kelumpuhan total.
Saya : Dokter, misalnya hal ini terjadi pada
anggota keluarga dokter sendiri, apa pilihan dokter? Terus maju atau mundur?
Setelah lama berpikir, dokter itu
menjawab,”saya memilih mundur”.
Kata-kata dokter itu terus
tergiang-ngiang di telinga saya. Hati menjadi gundah, urusannya antara memilih
nyawa atau sakit yang terus-menerus. Memilih mundur operasi, artinya memilih
untuk menahan sakit. Padahal saya datang ke RS Fatmawati dari Lampung karena
sudah tidak kuat menahan rasa sakit. Akhirnya saya menyatakan mundur ke dokter
residen dan menandatangani surat pernyataan menolak operasi.
Saya dan Ibu saya sangat sedih
mendengar pernyataan sang residen, tapi hati ini masih berat untuk melangkah,
move on keluar dari pilihan operasi. Kegalauan terus melanda, hati
mempertanyakan apakah ini keputusan yang terbaik?
Ibu saya kemudian bilang, kenapa
kita tidak tanya saja langsung ke Dokter Luthfi? Biar jelas pilihan-pilihannya.
(Hidup Ibuuuuu!)
Hari itu juga Ibu saya menghadap ke
Suster Kepala Ruangan dan minta dibuatkan janji dengan Dokter Luthfi karena
hari itu hari Jumat dan beliau sedang di luar kota. Alhamdulillah, Dokter
bersedia meluangkan waktu untuk bertemu di hari Senin tanggal 29 Maret 2011
(inget banget sama tanggalnya).
Pada hari Senin, sebelum Ibu membuka
mulut, eeh malahan Dokter nanya duluan,”Bu ini Si Adi kenapa kok mundur operasi?".
Ibu : Lho, bukannya risikonya tinggi, Dok?
Kata dokter residen berbahaya bisa kena pembuluh darah besar?
Dr L : Iya, tapi kan kita hati-hati, Bu.
Risikonya memang besar, tapi kalau dibiarin Adi makin parah. Badannya akan
semakin miring dan akan makin terasa sakit.
Ibu : Jadi nggak apa-apa Dok kalau dioperasi?
Dr L : Iya, kalau saya sarankan maju operasi.
Setelah mendengar informasi dari
Dokter Luthfi secara langsung, Ibu saya setuju untuk melakukan operasi. Saya
juga setuju dengan pendapat Ibu saya dan menyetujui untuk segera diambil
tindakan.
Siangnya, setelah ketemu Ibu, Dokter
Luthfi datang ke ruangan untuk bicara, mano-a- mano. Man to man.
Dr L : Kenapa kamu ngga jadi maju operasi?
Saya : Saya takut dengar risikonya, Dok.
Dr L : Risikonya orang hidup apa? (sambil
senyum).
Saya : Mati Dok.
Dr L : Risiko orang hidup itu ya mati. Jadi
ngga usah takut. Apalagi kamu lagi ikhtiar mau sembuh. Sekarang kalau kita misalnya
naik pesawat, pilotnya terbaik, pesawat juga bagus. Pramugarinya yang terbaik
juga. Kira-kira bakal selamat ke tujuan ngga?
Saya : Iya juga ya. Insya Allah selamat Dok.
Dr L : Ya sudah, dipikir lagi. Kalau sudah
bener-bener siap, kita ketemu di ruang operasi hari Rabu.
[Yang mengedit tulisan sampai
berlinang-linang air mata ikutan terharu bacanya].
Pembicaraan diatas sudah cukup buat
memotivasi saya kembali ke tujuan semula, mau sembuh! Gak tanggung-tanggung,
Dokter Luthfi menjadwalkan operasi pada hari Rabu, 30 Maret 2011. Hanya 1 hari
untuk persiapan dan bikin repot sejagad raya, semua terbirit-birit dibuatnya,
dari perawat, dokter anastesi, jantung, lab dan seterusnya. Saya siap buat maju
operasi dan langsung menandatangani surat pernyataan kesediaan operasi. Kali
ini saya tidak pakai baca-baca lagi, Bismillah, Sami'na Wa 'Ato'na aja pokoknya…hehehe.
Rabu, 30 Maret 2011, hari operasi,
pukul 07.45 pagi, pasien pertama yang masuk kamar operasi. Dengan didampingi
sanak saudara dari Lampung yang harus menunggu proses operasi dari jam 8 pagi
sampai jam 4 sore, operasi saya selesai dengan sukses. Atas izin Allah, doa
keluarga, orang tua khususnya, juga teman-teman dan kerja keras Dr Luthfi serta
Tim Ortopedi RS Fatmawati juga pastinya saya bisa selesai menjalani operasi
dengan selamat.
Saya langsung dibawa ke ICU karena
operasi yang saya jalani terbilang berat dan besar, sehingga kondisi harus
distabilkan sebelum kembali ke kamar rawat biasa. Masalah saya khususnya pada
saat itu tensi darah yang di bawah normal. Namun setelah 2 hari di ICU, saya
bisa kembali ke ruang rawat biasa dan masuk masa pemulihan.
Rasa sakit yang selama ini menyiksa
hilang dan scoliosis saya jauh berkurang. Walaupun kaki saya mati rasa, tapi
saya tetap bersyukur. Saya tidak berharap banyak, rasa sakit yang hilang sudah
cukup baik untuk saya, mengingat kondisi saya yg sudah parah waktu itu. Dr Luthfi juga tidak menjanjikan sampai bisa jalan lagi, tapi diusahakan semaksimal mungkin.
Pasca operasi, saya kembali
ditangani oleh Tim Rehab Medik. Dilatih agar lebih bisa mandiri dan terbiasa
dengan menggunakan kursi roda. Alhamdulillah, setelah terbiasa dan tidak ada
keluhan lagi, pada bulan Juni 2011 saya diizinkan pulang, walaupun dokter Rehab
Mediknya masih berat untuk melepas kepergian saya. Dan salah satu kenang-kenangan yang tidak terlupakan adalah pada tanggal 15 April 2011, saya bersama seorang anak perempuan pasien dokter lain terpilih bersama-sama Tim Ortopedi RS Fatmawati bertemu langsung dengan Menteri Kesehatan.
Demikian pengalaman saya. Saran saya
buat teman-teman skolioser atau yang memiliki masalah dengan tulang belakang,
segerakan konsultasi dengan dokter ortopedi terdekat dan jangan menunda-nunda,
karena hanya dengan solusi medis masalah bisa segera diselesaikan. Jangan
sampai terlanjur parah seperti saya.
Salam kenal dan terus semangat buat
teman-teman semua.
Wassalamu'alaikum
No comments:
Post a Comment